SULAWESI SELATAN — Timnas rugbi putri Kanada menghentikan rekor 41 pertandingan tanpa kekalahan Inggris dengan kemenangan dramatis 24-21 di Toronto. Kekalahan pertama Red Roses sejak November 2022 itu disebut pelatih John Mitchell sebagai respons yang memang dibutuhkan timnya.
Kekalahan Inggris di Toronto menandai berakhirnya periode dominasi empat tahun yang nyaris tanpa cela. Sebelum tumbang di Kanada, Red Roses mencatat 39 kemenangan beruntun sebelum akhirnya ditahan imbang 26-26 oleh Kanada di Exeter pada bulan sebelumnya.
Rentetan itu membuat Inggris memenangi 70 dari 72 pertandingan uji coba terakhir mereka. Rekor terakhir kali Inggris kalah terjadi pada 12 November 2022, ketika mereka takluk dari Selandia Baru di final Piala Dunia Rugbi Putri di Eden Park.
Dominasi Inggris yang Nyaris Membuat Turnamen Kehilangan Ketegangan
Sepanjang 2019 hingga 2026, Inggris meraih delapan gelar Six Nations secara beruntun dengan cara yang hampir selalu sepihak. Gelar juara dunia ketiga, menyusul trofi 1994 dan 2014, akhirnya diraih di kandang sendiri pada 2025 setelah dua kali gagal di final 2017 dan 2022.
Dominasi sebesar itu sempat membuat laga Six Nations kehilangan daya saing. Prancis dan Selandia Baru yang historis menjadi pesaing terdekat Inggris di papan atas dunia, plus Irlandia yang juara Six Nations 2013 dan 2015, kerap dihabisi dengan selisih besar.
Kanada sendiri pernah dibantai Inggris dengan selisih 50 poin dan 45 poin pada 2023. Namun pada final Piala Dunia 2025 di Twickenham, Kanada mampu bertahan kompetitif sebelum Inggris menjauh dan memastikan gelar.
Kanada Bangkit dari Ketertinggalan 21-12 di Toronto
Kemenangan di Toronto dibangun dari situasi sulit. Kanada tertinggal 21-12 sebelum berbalik menang 24-21, memaksa laga ketiga kedua tim di Ottawa pada Jumat (23/10) menjadi salah satu pertemuan paling dinanti dalam beberapa tahun terakhir.
Kebangkitan Kanada berjalan seiring dengan kembalinya daya saing Selandia Baru. Black Ferns sempat menahan Inggris 19-19 di Twickenham bulan lalu dan nyaris mencuri kemenangan di menit-menit akhir sebelum Red Roses menyelamatkan hasil.
Mitchell Sebut Kekalahan Ini yang Dibutuhkan Inggris
Pelatih kepala Red Roses John Mitchell mengaku sudah memperkirakan rangkaian laga WXV Global Series akan menguji timnya. Kekalahan di Toronto, menurutnya, justru membebaskan skuad untuk menemukan level permainan yang lebih tinggi.
"Jelas ini yang dibutuhkan Inggris. Bahkan sebelum pesan itu kami sudah bilang: 'Datang dan kalahkan kami.' Kami sudah meminta seseorang untuk menantang kami dan mereka melakukannya," kata Mitchell.
"Yang penting adalah menang setelah menang itu lebih sulit daripada sebelumnya. Saya kira ini membebaskan kami semua untuk menemukan lebih banyak hal. Jumat adalah kesempatan pertama kami untuk merespons," ujarnya menambahkan.
Meg Jones: Kekuatan Tim Terletak pada Kebersamaan
Kapten Inggris Meg Jones menekankan pentingnya reaksi kolektif setelah kekalahan pertama dalam empat tahun. Menurutnya, pertandingan dibangun dari banyak momen, bukan satu kejadian tunggal.
"Hal terbesar bagi kami adalah tetap bersama. Pertandingan dibangun dari momen-momen, bukan satu momen individu, melainkan banyak momen. Itu indahnya dan kami bisa mengevaluasinya, bisa kembali lagi, bisa tetap bersama," kata Jones.
"Saya pikir bagus bagi kami untuk menilai ulang ini dan melihat di mana posisi kami. Kebersamaan adalah pesan utama dari laga itu," ujarnya.
Pertemuan Ketiga di Ottawa Jadi Ujian Sesungguhnya
Bagi rugbi putri dunia, naiknya Kanada dan kembalinya Selandia Baru ke level kompetitif hanya bisa dibaca sebagai kabar baik. Turnamen yang sebelumnya nyaris tanpa ketegangan kini punya pesaing yang benar-benar mampu menekan Inggris.
Inggris masih punya modal besar dengan delapan gelar Six Nations beruntun dan trofi Piala Dunia 2025. Namun laga di Ottawa akan menunjukkan apakah kekalahan di Toronto hanya insiden, atau penanda bahwa peta kekuatan rugbi putri dunia benar-benar berubah.