SULAWESI SELATAN — Komisi Disiplin menjatuhkan sanksi denda total Rp 90 juta kepada Persija Jakarta atas insiden suporter di laga melawan Persita Tangerang. Hukuman pengurangan poin yang sempat ramai dibicarakan tidak masuk dalam putusan, meski I.League membuka peluang aturan itu di masa depan.
Keputusan diumumkan dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (21/10/2026), setelah Komdis menuntaskan pemeriksaan atas keributan yang terjadi di Banten Internasional Stadium pada 17 Oktober 2026. Denda Rp 90 juta dipecah menjadi Rp 30 juta untuk keributan suporter dan Rp 60 juta atas aksi menyalakan flare serta petasan di tribun.
Sanksi tidak berhenti di klub. The Jakmania dilarang mendampingi Persija pada laga tandang hingga paruh musim BRI Super League 2026/2027, yang berarti sekitar enam pertandingan away tanpa kehadiran suporter.
Dua Insiden Oktober, Baru Satu yang Disidangkan
Persija menyita perhatian karena dua kejadian melibatkan pendukungnya dalam rentang Oktober 2026. Selain keributan di Banten, ada penyerangan terhadap bus tim U-18 Persib Bandung di Rest Area Batang.
Komdis memilih fokus pada insiden di laga Persita vs Persija. Kasus penyerangan bus tim EPA Persib disebut masuk ranah hukum pidana, bukan lagi wilayah disiplin sepak bola.
Mengapa Pengurangan Poin Tidak Dijatuhkan
Direktur I.League Ferry Paulus menjelaskan dasar putusan tersebut. Menurut dia, aturan pengurangan poin belum tercantum dalam Kode Disiplin yang berlaku saat ini.
"Memang di dalam Kode Disiplin belum tertera terhadap indikasi atau larangan kerusuhan yang terjadi ini," ujar Ferry dalam jumpa pers yang sama.
Wacana hukuman itu sendiri sempat mencuat setelah Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut kemungkinan sanksi lebih berat untuk mencegah suporter berbuat onar. Persija menjadi klub yang paling disorot karena dua insiden tersebut.
Pintu Aturan Baru Tetap Terbuka
Ferry menegaskan I.League tidak menutup kemungkinan mendorong regulasi tersendiri soal pengurangan poin. Tujuannya menjaga kepastian dan kenyamanan pertandingan.
"Tidak menutup kemungkinan kami akan mendorong untuk diberikan sanksi dalam satu regulasi tersendiri untuk hukuman pengurangan poin. Karena apa yang kami jaga selama ini harus memiliki kepastian, kenyamanan, bahkan kalau kami lihat sekarang penonton sudah banyak ibu-ibu, anak-anak," jelas Ferry.
Ia menyoroti tren penonton yang kian beragam, termasuk kehadiran perempuan dan anak-anak di stadion. Karena itu, aksi sejumlah oknum yang memicu keributan dinilai perlu direspons dengan hukuman berat.
"Mengindikasikan hari demi hari pertandingan makin nyaman, tapi karena beberapa oknum dan suporter yang selalu mengganggu yang berindikasi terjadi keributan kami pasti akan mendorong supaya diberikan sanksi yang berat," tutur Ferry.
Bagi Persija, sanksi ini belum menyentuh perolehan poin di klasemen. Namun larangan hadir bagi Jakmania di enam laga tandang menjadi ujian tersendiri bagi atmosfer tim Macan Kemayoran sampai paruh musim.