PANGKEP — Balai TN Babul mencatat lonjakan luas lahan terbakar dalam tiga hari berturut-turut. Sebanyak 34,74 hektare hangus pada Senin (12/10), bertambah 13,67 hektare pada Selasa (13/10), lalu 45,02 hektare pada Rabu (14/10). Vegetasi yang terbakar didominasi tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst.
Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebut titik api kini terkonsentrasi di dua lokasi, yakni kawasan Wae Sellue, Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, dan Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci.
"Titik api awal di Bangkasakian, sekarang sudah ke Batu Napara juga. Api yang sama," ujar Rajab kepada detikSulsel, Rabu (14/10/2026).
Medan Karst Terjal Bikin Petugas Tak Bisa Semprot Air Langsung
Pemadaman terkendala medan terjal dan kawasan yang terisolasi dari akses kendaraan. Angin kencang mempercepat perluasan api di puncak karst yang tak terjangkau petugas.
"Kendalanya teman-teman, angin kencang biasa seperti itu. Terus yang terbakar di puncak karst kita tidak bisa jangkau," tutur Rajab.
Sumber air di sekitar lokasi juga terbatas. Jarak titik api yang jauh dari permukiman membuat armada damkar tidak bisa menyemprotkan air secara langsung.
"Teman-teman terpaksa mengambil air dari mobil damkar untuk mengisi jet shooter saja. Untuk disemprot langsung tidak bisa karena jauh sekali," imbuhnya.
Tim sempat memadamkan 2 titik asap di tengah tebing karst secara manual menggunakan jet shooter. Salah satunya berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga.
Tarsius hingga Bunglon Jadi Korban, Banyak Satwa Jatuh dari Karst
Kerusakan vegetasi berdampak langsung pada fauna yang hidup di kawasan karst. Burung, makaka, ular, dan berbagai reptil kehilangan tempat hidupnya.
"Yang paling parah kerusakan vegetasi dan gangguan fauna. Tempat hidupnya fauna kan banyak yang rusak, burung, makaka, ular, banyak reptil-reptil yang bermasalah," jelas Rajab.
Satwa endemik yang paling rentan terdampak adalah Tarsius. Primata kecil itu kerap beraktivitas di rumpun bambu dan pohon jati yang tumbuh dari dasar hingga tebing karst.
"Kalau Tarsius itu kan tempat mainnya di bambu, jadi banyak terganggu. Apalagi sampai di karst terbakar, jadi banyak jatuh batu-batu dari atas," katanya.
Tim lapangan sudah menemukan sejumlah satwa terdampak. Beberapa di antaranya burung, bunglon, dan seekor ular yang masih hidup saat ditemukan.
Situs Sabila dan Lukisan Cadas 48 Ribu Tahun di Bawah Bayang-Bayang Api
Arkeolog dari Universitas Griffith Australia, Basran Burhan, menyoroti ancaman kebakaran terhadap Situs Sabila yang berada di kaki bukit karst, berdekatan dengan titik api.
"Situs Sabila itu posisinya pas di bawahnya, titik kebakaran ada di atasnya, kira-kira beberapa meter di atas site. Tapi api belum sampai masuk ke dalam situs," kata Basran kepada detikSulsel, Kamis (15/10).
Situs Sabila menyimpan bukti kehidupan manusia purba berupa deposit permukaan tanah, artefak alat batu, dan sisa-sisa makanan purba. Dampak langsung kebakaran terhadap situs itu belum bisa dipastikan karena observasi mendalam belum dilakukan.
Kawasan TN Babul juga menyimpan lukisan cadas kuno pada dinding karst. Basran khawatir paparan asap dan fluktuasi suhu udara merusak lukisan prasejarah di sana.
"Lukisan ini ada yang berasal dari masa zaman es (plestosen) dengan rentang waktu antara 51 ribu sampai 17 ribu tahun. Lukisan terdekat dari daerah kebakaran yang sudah dipertanggalkan itu Leang Bulu Sipong 4, gambar adegan berburu yang berumur 48 ribu tahun," paparnya.
Jelaga asap hitam yang terbawa angin dapat menempel kuat pada pigmen lukisan. Kondisi itu berpotensi mengaburkan hingga merusak nilai estetika dan keilmuan lukisan secara permanen.
"Dampak umumnya bisa memicu pengelupasan dinding atau efek jelaga asap yang menutupi dan merusak lukisan," ucap Basran.
Balai TN Babul belum merinci total kerugian lingkungan akibat kebakaran. Petugas di lapangan masih fokus melakukan pemadaman di 9 titik api yang tersisa.