MAKASSAR — Kinerja ekspor Sulawesi Selatan pada periode Januari hingga Maret 2026 menunjukkan tren kontraksi dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala BPS Sulsel Aryanto mengungkapkan bahwa total nilai perdagangan luar negeri daerah ini menyusut dari angka 373,29 juta dolar AS pada triwulan I 2025 menjadi 323,80 juta dolar AS.
Penurunan ini dipicu oleh lesunya permintaan dan harga pada dua komoditas tambang utama yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor daerah. Besi dan baja mencatatkan penurunan paling tajam, sementara nikel juga mengalami koreksi nilai yang cukup signifikan secara kumulatif.
Penyebab Utama: Anjloknya Ekspor Besi dan Baja
Berdasarkan data BPS, kelompok komoditas besi dan baja mengalami kemerosotan nilai hingga 64,85 juta dolar AS. Angka tersebut setara dengan penurunan sebesar 76,15 persen jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
"Kalau membandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya itu ada penurunan sebesar 13,26 persen secara year on year," ujar Aryanto di Makassar, Rabu.
Selain besi dan baja, komoditas nikel yang menjadi primadona ekspor Sulsel juga belum menunjukkan performa maksimal. Secara kumulatif, nilai ekspor nikel turun sebesar 8,88 juta dolar AS atau sekitar 4,35 persen dibandingkan triwulan pertama tahun 2025.
Ekspor Kakao Melonjak Hingga 101 Persen
Di tengah pelemahan sektor tambang, sektor perkebunan justru menunjukkan gairah positif, terutama pada komoditas kakao atau cokelat. Komoditas ini mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan nilai mencapai 15,12 juta dolar AS atau meroket 101,89 persen.
Selain kakao, beberapa kelompok barang lainnya juga mengalami pertumbuhan pada Maret 2026 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Biji-bijian berminyak naik 38,93 persen, disusul komoditas garam, belerang, dan kapur yang tumbuh 41,52 persen, serta sektor perikanan (ikan dan udang) yang meningkat 55,68 persen.
Dominasi Nikel dalam Struktur Ekspor Maret 2026
Meski secara kumulatif menurun, nikel tetap menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Sulawesi Selatan. Pada Maret 2026 saja, nilai ekspor nikel menyentuh 73,59 juta dolar AS, yang berkontribusi sebesar 64,61 persen terhadap total ekspor daerah dalam sebulan.
"Jika dibandingkan dengan Februari 2026, nilai ekspor nikel mengalami penurunan sebesar 28,84 persen," kata Aryanto menjelaskan dinamika bulanan komoditas tersebut.
Posisi kedua eksportasi Sulsel ditempati oleh biji-bijian berminyak dengan nilai 9,20 juta dolar AS, diikuti garam, belerang, dan kapur sebesar 6,79 juta dolar AS. Sementara itu, besi dan baja hanya menyumbang 5,84 juta dolar AS, dan sektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 5,49 juta dolar AS.