SULAWESI SELATAN — Pasar dalam negeri menjadi motor utama pertumbuhan dengan volume 14,18 juta ton, meningkat 9,7% yoy. Angka ini sekaligus mengindikasikan permintaan konstruksi dan properti yang mulai bergairah setelah sebelumnya tertekan.
Laba Bersih Melonjak Hingga 471%
Kenaikan volume penjualan berdampak langsung ke lini keuangan. Pendapatan SIG tumbuh 13,1% yoy menjadi Rp17,65 triliun, sementara EBITDA naik 2,6% menjadi Rp2,15 triliun.
Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 471,0% menjadi Rp228 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding laba bersih yang tercatat Rp207 miliar, menunjukkan efisiensi operasional yang membaik.
Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra menegaskan transformasi bisnis menjadi kunci ketahanan perusahaan di tengah industri semen domestik yang kompetitif.
"Disiplin dan konsistensi menjalankan transformasi bisnis membuat SIG semakin resilience di tengah kondisi industri semen domestik yang menantang. Bahkan, transformasi tidak hanya membuat perusahaan mampu mencapai pertumbuhan kinerja, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang," kata Indrieffouny dalam Paparan Publik di Bursa Efek Indonesia, Rabu (9/9/2026).
Empat Pilar Strategi dan Efisiensi Struktur
Kinerja tersebut ditopang empat pilar strategis: transformasi model bisnis semen, keunggulan biaya dan efisiensi, pengembangan produk turunan dan solusi bangunan, serta penguatan sumber daya dan tata kelola.
SIG juga melakukan penataan anak usaha melalui Streamlining Entitas SIG Group. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan model bisnis sekaligus membentuk struktur organisasi yang lebih efektif dan efisien.
Diversifikasi ke Produk Turunan dan Semen Hijau
Untuk mengurangi ketergantungan pada semen kantong, SIG memperkuat lini produk turunan dan Total Building Solutions. Beberapa produk beton inovatif yang dikembangkan antara lain ThruCrete, SpeedCrete, DekoCrete, paving block berpori, serta Bata Interlock Presisi.
Perseroan juga memperkenalkan produk semen hijau untuk mendukung proyek infrastruktur dan perumahan berkelanjutan, seperti PwrPro, DuPro+ SBC, DuPro+ LH, dan MaxStrength Pro. Langkah ini sejalan dengan tren pembangunan ramah lingkungan yang mulai diadopsi pelaku konstruksi di Indonesia.
Dengan portofolio yang semakin terdiversifikasi dan struktur biaya yang efisien, SIG optimistis menjaga momentum pertumbuhan hingga paruh kedua 2026. Namun, persaingan harga dan overkapasitas industri semen nasional tetap menjadi tantangan yang harus diantisipasi.