Pencarian

Sumpah Pemuda ke-98, MUI Sulsel Dorong Pemuda Makassar Ambil Peran di Panggung Global

Rabu, 28 Oktober 2026 • 14:32:01 WIB
Sumpah Pemuda ke-98, MUI Sulsel Dorong Pemuda Makassar Ambil Peran di Panggung Global
Pengurus Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel, Rusdi Hidayat Jufri, menyampaikan pandangannya terkait peran pemuda dalam peringatan Sumpah Pemuda ke-98.

MAKASSAR — Pengurus Komisi Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Rusdi Hidayat Jufri, menyoroti jejak Jong Celebes dalam peristiwa 28 Oktober 1928 sebagai titik tolak refleksi. Organisasi pemuda daerah itu ikut menyumbang kesadaran persatuan di antara perkumpulan kedaerahan yang berkumpul pada kongres pemuda saat itu.

Hampir seabad berselang, kata Rusdi, medan perjuangan pemuda sudah bergeser. Persoalannya bukan lagi merebut kemerdekaan, melainkan mendorong Indonesia mengambil porsi lebih besar dalam persaingan antarbangsa.

Negara Lain Sudah Memberi Ruang, Bagaimana Indonesia?

Rusdi membandingkan dengan sejumlah negara yang menempatkan anak muda di posisi strategis. Prancis pernah menunjuk Gabriel Attal sebagai perdana menteri pada usia 34 tahun. Finlandia melakukan hal serupa lewat Sanna Marin di usia yang sama.

Uni Emirat Arab mengangkat Shamma Al Mazrui sebagai menteri ketika baru berusia 22 tahun. Di jalur usaha, Ritesh Agarwal membangun jaringan perhotelan OYO di India sejak umur 19 tahun, sementara Markus Villig mendirikan perusahaan transportasi Bolt di Estonia pada usia yang sama.

Menurut Rusdi, negara-negara itu tidak sekadar membanggakan generasi mudanya. Mereka menyiapkan kebijakan pendidikan, lapangan kerja, kewirausahaan, dan ruang partisipasi agar potensi anak muda berubah menjadi kekuatan nyata.

Modal Bugis-Makassar dan 1,61 Juta Jiwa Usia Produktif

Sulawesi Selatan punya bekal historis yang kuat. Masyarakat Bugis-Makassar lama dikenal sebagai pelaut, pedagang, dan perantau yang membangun jaringan hingga ke berbagai penjuru Asia Tenggara. Tradisi merantau itu melatih keberanian, kemandirian, dan kemampuan menyesuaikan diri.

Makassar kini tumbuh sebagai salah satu pusat perdagangan di kawasan timur Indonesia. Perguruan tinggi, pesantren, serta sektor pertanian dan kelautan menjadi penopang yang dinilai bisa melahirkan generasi berdaya saing internasional.

Data Badan Pusat Statistik yang dirujuk Rusdi mencatat penduduk Sulawesi Selatan berusia 20–29 tahun pada 2025 mencapai sekitar 1,61 juta jiwa. Angka itu, tulisnya, perlu diterjemahkan menjadi kekuatan pembangunan, bukan sekadar statistik.

Dari Diplomat hingga Eksportir Kakao dan Rumput Laut

Rusdi mendorong pemuda Sulawesi Selatan menembus profesi lintas batas: diplomat, ilmuwan, profesional internasional, pengusaha teknologi, sampai pelaku ekspor produk unggulan daerah. Kakao, rumput laut, hasil perikanan, dan produk halal disebut sebagai sektor yang paling siap dijangkau pasar global.

Agar tidak berhenti di wacana, ia menilai pemerintah daerah, kampus, pesantren, organisasi kepemudaan, dan dunia usaha perlu menjalin kerja sama konkret. Bentuknya bisa berupa beasiswa, penguasaan bahasa asing, pertukaran pelajar, magang profesional, hingga pembukaan akses pasar bagi pengusaha muda.

Dengan begitu, pemuda tidak hanya berperan sebagai pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja dan penggerak ekonomi daerah.

Beasiswa ke Luar Negeri dan Jaringan ASEAN-Timur Tengah

Rusdi memberi apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengirim sejumlah pemuda menempuh pendidikan di negara dengan kualitas pendidikan baik. Kebijakan semacam itu, menurutnya, perlu diperkuat agar makin banyak anak muda memperoleh pengalaman dan wawasan internasional.

Dari posisinya di Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel, ia memandang kerja sama dengan negara-negara ASEAN, Jepang, kawasan Timur Tengah, dan mitra internasional lain harus diarahkan membuka peluang bagi generasi muda. Hubungan antarbangsa, katanya, tidak cukup berhenti pada pertemuan antarlembaga atau kerja sama formal.

Manfaatnya mesti terasa langsung di masyarakat, terutama pada pendidikan dan pengembangan keilmuan. Di titik itu, Sumpah Pemuda dinilai tetap relevan sebagai pijakan: persatuan yang dibangun generasi 1928 kini diuji lewat kemampuan anak muda Sulawesi Selatan bersaing di tingkat dunia.

Follow sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: narasimedia.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks