SULAWESI SELATAN — Pernah merasa lelah bukan karena fisik, tapi karena pikiran yang terus bekerja? Menonton berita, membuka media sosial, memikirkan kebutuhan anak, pekerjaan rumah, hingga tuntutan pekerjaan—semuanya masuk bersamaan. Kondisi ini membuat banyak ibu muda Indonesia merasa kewalahan, mudah tersinggung, dan kehilangan fokus. Masalahnya bukan sekadar lelah biasa. Hal ini bisa menjadi awal dari gangguan kesehatan mental yang serius.
Yayasan Anand Ashram baru-baru ini mengangkat isu ini dalam Simposium Budaya. Acara yang digelar di Taman Balekambang, Surakarta, ini melibatkan lebih dari 600 peserta dan menghadirkan psikolog klinis hingga budayawan. Tujuan utamanya satu: mengajak manusia modern, termasuk ibu-ibu di rumah, berhenti sejenak dan belajar mengelola "banjir informasi" di kepala kita.
Mengapa Pikiran Ibu Modern Mudah Lelah?
Ketua Panitia Simposium, Iwan Susanto, mengingatkan bahwa perubahan dunia harus dimulai dari transformasi diri. "Kedamaian dalam diri melahirkan kejernihan. Kejernihan melahirkan kepedulian. Kepedulian melahirkan kebersamaan, dan kebersamaan membawa kita menuju harmoni," jelasnya. Analoginya sederhana: jika gelas kita penuh, kita tak bisa menerima hal baru. Begitu pula pikiran yang penuh informasi tanpa henti akan sulit berpikir jernih.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyoroti munculnya sikap inner selfish—kecenderungan mencari kedamaian pribadi dengan mengabaikan lingkungan sekitar. Di era digital, banyak orang merasa lebih nyaman "menenggelamkan diri" di layar ponsel daripada berinteraksi langsung. Padahal, kepedulian terhadap sesama adalah salah satu kunci kebahagiaan yang sering terlupakan.
1. Sadari dan Latih Stabilitas Emosi Melalui Napas
Psikolog klinis, Rin Widya Agustin, menjelaskan bahwa egoisme sering menjadi akar krisis masa kini. "Krisis masa kini berakar pada egoisme, di mana kita selalu merasa paling menderita, paling benar, atau paling penting," tuturnya. Perasaan ini membuat masalah kecil terasa besar dan memicu stres berkepanjangan.
Solusinya bisa dimulai dari hal sederhana: bernapas. Rin mengaitkan latihan kedamaian diri dengan kemampuan mengatur emosi. Dengan menarik napas panjang dan fokus pada ritmenya, kita belajar mengenali kondisi emosional. Latihan rutin membantu menghadapi konflik batin sebelum mencari kebahagiaan di luar diri—misalnya saat anak rewel atau pekerjaan menumpuk, tarik napas sejenak sebelum merespons.
2. Kecilkan Ego, Perluas Kepedulian
KGPH Adp Panembahan Dipokusumo membawa kita kembali pada kearifan Jawa. Konsep memolo menggambarkan sifat negatif dalam diri—rasa dengki dan serakah. Masyarakat perlu membersihkan sifat itu dengan semangat amemangun karyenak tyasing sesami, yang berarti membangun kebahagiaan di hati sesama. Caranya? Mulai dari hal kecil di rumah. Mengajak anak berbagi makanan dengan tetangga atau sekadar tersenyum pada orang lain adalah langkah awal yang nyata.
Sumartono Hadinoto, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta, juga menegaskan kepedulian tak perlu menunggu kaya. "Berbagi itu tidak perlu menunggu kaya atau menunggu siap. Berbagi bisa dimulai saat ini juga, sekecil apa pun, selama dilandasi keikhlasan." Ini cara efektif mengalihkan fokus dari masalah pribadi dan membangun koneksi sosial yang menyehatkan mental.
3. Menghargai Perbedaan dalam Keluarga
RAy. Febri Hapsari Dipokusumo memberikan gambaran menarik lewat bentuk jari tangan. Setiap jari panjangnya beda, fungsinya beda, tapi bersama mereka bisa menggenggam erat. "Kita bisa memegang sesuatu karena ada harmoni dari perbedaan," katanya. Dalam rumah tangga, perbedaan pendapat dengan pasangan atau anak bukan hal yang menakutkan. Memahami hal ini dapat mengurangi ekspektasi berlebihan dan rasa kecewa.
4. Meditasi Singkat untuk Kejernihan Pikiran
Simposium ini juga mengajak peserta mempraktikkan Meditasi Neo Self Empowerment (NSE). Psikolog Assoc. Prof. Dr. Arbania Fitriani mengingatkan, "Apapun pencapaian materi yang kita miliki, kita tidak akan pernah bahagia jika pikiran kita tidak jernih." Luangkan 5–10 menit setiap hari untuk duduk hening tanpa gawai. Fokuskan pikiran pada pernapasan dan rasa syukur. Di tengah gempuran informasi, momen hening ini adalah kebutuhan, bukan kemewahan.
Hasil yang Terlihat dalam Keseharian
Kejernihan pikiran berdampak besar pada cara ibu menghadapi tanggung jawab. Dengan pikiran tenang, kita bisa menurunkan nada bicara saat anak tantrum. Kita mampu berpikir lebih logis ketika pekerjaan menumpuk. Seperti dikatakan psikolog Arbania di atas, pencapaian materi tak menjamin bahagia—keseimbangan batinlah kuncinya.
Mulailah dari satu langkah kecil hari ini. Matikan notifikasi ponsel selama satu jam, ajak anak duduk tenang, atau lakukan latihan napas sederhana. Kedamaian yang Anda bangun bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga tercinta.