Di Makassar, naik ojek online dari pusat kota ke Bandara Sultan Hasanuddin bisa terasa lebih ringan di kantong dibanding rute setara di Jakarta. Tapi kenapa? Bukan cuma soal jarak. Ada struktur biaya yang berbeda, dari biaya bahan bakar hingga kebijakan potongan aplikasi yang diterapkan di masing-masing daerah.
Artikel ini bukan daftar tarif pasti—karena harga berubah setiap jam. Tapi saya akan mengupas faktor-faktor yang bikin tarif di Sulawesi Selatan punya pola sendiri, berdasarkan pengalaman pengguna dan pengemudi yang saya kumpulkan dari diskusi langsung.
Faktor Geografis: Sulawesi Selatan Punya "Denda" Jarak dan Macet
Topografi Makassar yang relatif datar memang menguntungkan. Tapi perluasan kota ke arah timur—seperti kawasan Panakukang hingga Tamalanrea—membuat jarak tempuh antar titik jadi lebih panjang. Rute dari Jalan Sultan Alauddin ke kawasan industri di Daya bisa memakan waktu 40 menit tanpa macet parah.
Di kota-kota seperti Surabaya atau Bandung, jarak antar pusat aktivitas lebih rapat. Akibatnya, tarif per kilometer di Sulawesi Selatan sering terlihat lebih murah, tapi total ongkos per perjalanan bisa lebih besar karena jarak tempuh yang memang lebih jauh. Faktor ini jarang dibahas di artikel perbandingan tarif biasa.
Potongan Aplikasi vs Pendapatan: Perspektif Pengemudi
Pengemudi ojol di Makassar yang saya temui bercerita, potongan aplikasi untuk layanan GoRide dan GrabBike di Sulawesi Selatan berkisar 20-30 persen. Angka ini mirip dengan kota besar lain. Tapi volume order harian di Makassar tidak sebanyak di Jakarta atau Surabaya. Artinya, pengemudi harus bekerja lebih lama untuk mencapai target pendapatan yang sama.
Kondisi ini mendorong beberapa pengemudi ojol di Makassar untuk lebih selektif menerima order. Mereka cenderung menghindari rute yang terlalu panjang dengan tarif flat. Ini berbeda dengan pengemudi di Jakarta yang bisa mengandalkan order pendek dengan volume tinggi. Perilaku ini secara tidak langsung memengaruhi ketersediaan armada di jam sibuk, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga (surge pricing) lebih sering terjadi di Sulawesi Selatan.
Taksi Konvensional: Pilihan Alternatif yang Masih Bertahan
Di bandara dan pusat perbelanjaan besar di Makassar, taksi konvensional masih punya pangsa. Tarifnya biasanya berdasarkan argometer yang disetujui Dinas Perhubungan setempat. Berbeda dengan ojol yang tarifnya fluktuatif, taksi konvensional punya tarif dasar dan tarif per kilometer yang lebih stabil.
Untuk perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin ke pusat kota (sekitar 20 kilometer), tarif taksi konvensional seringkali lebih mahal 30-40 persen dibanding ojol di jam normal. Tapi di jam hujan atau malam hari, ketika ojol menerapkan lonjakan harga, selisihnya bisa menipis. Pengalaman saya, taksi konvensional juga lebih mudah didapatkan di lokasi-lokasi resmi seperti bandara, tanpa perlu menunggu driver menerima order.
Perbandingan dengan Kota Lain: Makassar vs Surabaya vs Medan
Ketika membandingkan tarif ojol di Makassar dengan Surabaya, perbedaan paling mencolok bukan pada tarif per kilometer, melainkan pada biaya tambahan (seperti biaya bandara atau biaya jalan tol). Di Surabaya, akses tol dalam kota membuat perjalanan lebih cepat, tapi ongkos tol dibebankan ke penumpang. Di Makassar, belum ada tol dalam kota yang signifikan, sehingga biaya perjalanan lebih bergantung pada jarak dan waktu tempuh.
Sementara itu, Medan punya kemiripan dengan Makassar: jarak tempuh antar titik cukup panjang, dan kemacetan cenderung terjadi di titik-titik tertentu. Tapi tarif ojol di Medan seringkali lebih rendah 10-15 persen dibanding Makassar, menurut data dari forum pengemudi. Faktor utamanya adalah persaingan antar aplikasi yang lebih ketat di Medan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah tarif ojol di Makassar lebih murah daripada di Jakarta?
Secara nominal, tarif per kilometer di Makassar lebih murah. Tapi karena jarak tempuh rata-rata per perjalanan lebih panjang, total ongkos per perjalanan bisa hampir setara dengan Jakarta untuk rute yang sama panjangnya.
Kapan waktu paling mahal naik ojol di Sulawesi Selatan?
Jam sibuk pagi (07.00-09.00) dan sore (16.00-18.00) di Makassar sering memicu lonjakan harga, terutama di kawasan Jalan A.P. Pettarani dan Jalan Urip Sumoharjo. Harga bisa naik hingga 1,5 kali lipat dari tarif normal.
Lebih murah naik taksi konvensional atau ojol di Makassar?
Untuk perjalanan jarak pendek (di bawah 5 km), ojol biasanya lebih murah. Untuk perjalanan jarak jauh atau ke bandara, taksi konvensional bisa lebih ekonomis karena tarifnya tetap dan tidak terpengaruh lonjakan permintaan.
Apakah ada perbedaan tarif antara Gojek dan Grab di Sulawesi Selatan?
Selisih tarif antar aplikasi biasanya tidak signifikan, sekitar 5-10 persen. Perbedaan lebih terasa pada promo dan diskon yang ditawarkan, bukan pada tarif dasar. Disarankan membandingkan langsung di aplikasi sebelum memesan.
Bagaimana cara menghindari lonjakan harga ojol di Makassar?
Pesan di luar jam sibuk, hindari rute yang melewati kawasan macet seperti Jalan Hertasning atau Jalan Perintis Kemerdekaan, dan pertimbangkan naik taksi konvensional jika lonjakan harga sudah di atas 1,5 kali lipat.
Memahami pola tarif di Sulawesi Selatan membantu perantau dan wisatawan merencanakan biaya transportasi lebih akurat. Tidak ada satu moda yang selalu termurah—semua tergantung waktu, rute, dan kondisi lalu lintas. Cek langsung aplikasi atau tanya pengemudi di lokasi sebelum memutuskan.