SULAWESI SELATAN — Kekhawatiran investor Alphabet soal pengeluaran besar-besaran untuk AI mulai terjawab. Laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa investasi mahal di pusat data dan chip justru membuahkan hasil manis di lini bisnis cloud.
Google Cloud mencatat pendapatan USD 24,8 miliar, melampaui ekspektasi analis Wall Street yang hanya memproyeksikan USD 22,46 miliar. Angka ini juga naik signifikan dari kuartal sebelumnya yang mencapai USD 20 miliar.
Pendapatan Cloud Melonjak, Backlog Capai Rp 8.481 Triliun
Lonjakan ini disebut perusahaan berasal dari adopsi solusi AI enterprise dan infrastruktur AI yang disewa korporasi. Google juga mengungkapkan bahwa backlog — pekerjaan kontrak cloud yang belum dikonversi menjadi pendapatan — kini mencapai USD 514 miliar (sekitar Rp 8.481 triliun).
Secara keseluruhan, pendapatan Alphabet naik 24% secara tahunan menjadi USD 119,8 miliar. Laba bersih perusahaan melonjak drastis menjadi USD 112,1 miliar, dibandingkan USD 28,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Divisi Google Services — yang mencakup mesin pencarian, YouTube, dan Android — juga tumbuh 15% menjadi USD 94,5 miliar.
Gemini Tembus 950 Juta Pengguna Bulanan
CEO Google Sundar Pichai menyebut investasi AI mulai mendefinisikan ulang seluruh lini bisnis perusahaan. "Kami memiliki momentum yang menarik di semua lini," ujarnya dalam earnings call, Rabu (12/2).
Adopsi chatbot AI Gemini juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Aplikasi tersebut kini memiliki 950 juta pengguna aktif bulanan, naik dari 750 juta pengguna yang dilaporkan pada kuartal IV 2025.
Belanja Modal 2026 Capai Rp 3,13 Triliun, Pichai Yakin Investasi Terbayar
Meski pendapatan menjulang, pengeluaran Alphabet tetap besar. Perusahaan menganggarkan belanja modal — untuk membangun pusat data, membeli chip, dan memperluas infrastruktur — antara USD 180 miliar hingga USD 190 miliar (sekitar Rp 2,97 triliun hingga Rp 3,13 triliun) untuk tahun ini.
Sejumlah analis menekan Pichai soal kapan investasi mahal ini akan benar-benar terbayar. "Saya pikir investasi kapasitas komputasi kami akan membuahkan hasil pada 2027," jawab Pichai. "Kami melihat indikator permintaan yang kuat, termasuk kontrak jangka panjang. Jika boleh jujur, dinamikanya terlihat lebih sehat dibanding setahun lalu, dan itulah yang memberi kami keyakinan untuk melakukan investasi ini."
Pendapatan Double-Digit 12 Kuartal Berturut-turut
Pertumbuhan pendapatan tinggi sebenarnya bukan hal baru bagi Google. Perusahaan mencatatkan 12 kuartal beruntun pertumbuhan pendapatan dua digit. Namun, kuartal ini menjadi salah satu yang paling subur bagi raksasa teknologi tersebut.
Bagi pengguna Indonesia, kabar ini berarti layanan cloud Google — termasuk AI yang digunakan di aplikasi seperti Google Maps, Gmail, dan Google Foto — kemungkinan akan terus meningkat kualitasnya. Perusahaan memiliki dana dan infrastruktur untuk mengembangkan fitur-fitur baru yang memanfaatkan kecerdasan buatan, baik untuk konsumen maupun korporasi.