Pencarian

37 Ribu Warga di 18 Kelurahan Makassar Alami Kekeringan, BPBD Siapkan 89 Titik Distribusi Air Bersih

Minggu, 12 Juli 2026 • 18:32:57 WIB
37 Ribu Warga di 18 Kelurahan Makassar Alami Kekeringan, BPBD Siapkan 89 Titik Distribusi Air Bersih
BPBD Makassar menyiapkan 89 titik distribusi air bersih untuk 37 ribu warga terdampak kekeringan.

MAKASSAR — Kota yang selama ini dikenal sebagai kota pesisir yang dikelilingi laut dan dihiasi sungai kini justru berhadapan dengan persoalan sebaliknya: kekeringan. Bukan banjir yang merendam rumah, melainkan ember-ember kosong yang menjadi pemandangan sehari-hari di puluhan lingkungan.

Data BPBD Kota Makassar mencatat, lebih dari 37 ribu warga mengalami dampak langsung dari musim kemarau tahun ini. Mereka tersebar di 18 kelurahan yang meliputi Kecamatan Ujung Tanah, Tamalanrea, Tallo, dan Biringkanaya. Angka ini bukan sekadar statistik; di baliknya ada ibu rumah tangga yang menghitung setiap tetes air di bak penampungan dan keluarga yang harus menghemat air mandi.

Bukan Hanya Kawasan Pinggiran yang Terdampak

Yang menarik, wilayah terdampak kekeringan tidak hanya meliputi kawasan pinggiran kota. Distribusi titik krisis air bersih justru menyebar merata, dari Ujung Tanah hingga Tamalanrea, dari Tallo hingga Biringkanaya. Artinya, persoalan ini bukan lagi milik satu lingkungan tertentu, melainkan sudah menjadi persoalan kota secara keseluruhan.

BPBD Kota Makassar telah bergerak cepat dengan menyiapkan 89 titik distribusi air bersih dan mengerahkan mobil tangki ke lokasi-lokasi terdampak. Petugas lapangan juga telah turun untuk memastikan distribusi berjalan lancar. Namun, bantuan darurat ini dinilai hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini, belum tentu menjawab kebutuhan bulan depan, apalagi tahun depan.

Mengapa Kekeringan Terus Berulang?

Kekeringan bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba seperti gempa bumi. Musim kemarau bisa diprediksi, polanya dapat dipetakan, dan wilayah rawan sudah bisa ditebak dari tahun ke tahun. Jika demikian, mengapa setiap musim kemarau warga tetap harus berebut air bersih?

Persoalan utama bukan terletak pada distribusi air, melainkan pada ketersediaannya. Perubahan iklim telah membuat musim semakin sulit diprediksi. Kemarau terasa lebih panjang, curah hujan semakin tidak menentu, dan kota-kota besar mulai merasakan tekanan terhadap sumber daya air bersih. Makassar kini menghadapi kenyataan baru yang membutuhkan antisipasi jangka panjang, bukan sekadar respons darurat tahunan.

Air Bukan Pilihan, Melainkan Kebutuhan Paling Dasar

BNPB telah mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air. Imbauan itu benar adanya. Namun, penghematan hanya satu bagian dari solusi. Bagian lainnya adalah memastikan infrastruktur air bersih mampu menjangkau seluruh warga ketika musim kemarau datang.

Bagi masyarakat, air bukan pilihan. Orang bisa menunda membeli pakaian atau kendaraan, tetapi tidak bisa menunda minum, mandi, atau kebutuhan hidup lainnya yang bergantung pada air setiap hari. Makassar yang pernah berkali-kali belajar menghadapi banjir kini sedang belajar menghadapi sisi lain dari cuaca ekstrem: kekeringan. Jika banjir mengajarkan pentingnya membuang kelebihan air, maka kekeringan mengajarkan satu hal yang lebih mendasar—betapa berharganya setiap tetes air yang selama ini sering dianggap biasa. (*)

Bagikan
Sumber: katasulsel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks