SULAWESI SELATAN — Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan, perusahaan tidak hanya mengejar volume produksi, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengamankan pasokan gas bumi hingga 2035 melalui kerja sama dengan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan PC Ketapang II Ltd.
“Gas bumi merupakan salah satu bahan baku utama dalam proses produksi pupuk. Kepastian pasokan gas dan penguatan kolaborasi dengan para pemasok energi merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan untuk menjaga keberlanjutan operasional,” ujar Daconi dalam keterangan resmi, Minggu (12/7/2026).
Tambahan 30-35 MMSCFD dari Lapangan MDA-MBH dan Ketapang
Petrokimia Gresik menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan HCML untuk Lapangan MDA-MBH di Selat Madura. Selain itu, perusahaan juga meneken Head of Agreement (HoA) dengan PC Ketapang II Ltd untuk Wilayah Kerja Ketapang di Perairan Utara Pulau Madura.
Dari dua sumber tersebut, perusahaan berpotensi mendapatkan tambahan pasokan gas sebesar 30-35 MMSCFD. Jumlah ini akan menopang operasional pabrik pupuk dan produk agroindustri lainnya hingga 2035.
“Sinergi lintas sektor menjadi fondasi penting untuk memperkuat ketahanan industri nasional. Kami berkomitmen terus membangun kemitraan strategis yang memberikan manfaat jangka panjang bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan Indonesia,” kata Daconi.
Modifikasi Pabrik dan Infrastruktur Logistik Baru
Untuk mendukung pertumbuhan produksi, Petrokimia Gresik memodifikasi Pabrik Fosfat I menjadi Pabrik Phonska V dengan teknologi Flex-Phos. Teknologi ini memungkinkan satu fasilitas memproduksi beberapa jenis pupuk sesuai permintaan pasar.
Perusahaan juga membangun dua tangki penyimpanan asam sulfat berkapasitas total 40.000 ton, sehingga total kapasitas penyimpanan naik menjadi 100.000 ton. Di sektor logistik, Dermaga A yang baru dibangun mampu melayani kapal hingga 60.000 DWT dengan kapasitas bongkar muat 4 juta ton per tahun.
Percontohan Dekarbonisasi dari Kementerian Perindustrian
Selain memperkuat produksi, Petrokimia Gresik juga mempercepat transformasi menuju industri rendah emisi. Perusahaan ditunjuk sebagai proyek percontohan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) oleh Kementerian Perindustrian. Program ini masuk dalam peta jalan dekarbonisasi periode 2025–2030.
“Transformasi bagi kami bukan hanya tentang bagaimana perusahaan menjadi lebih besar, tetapi bagaimana Petrokimia Gresik semakin adaptif, efisien, dan tangguh dalam menjawab kebutuhan masa depan,” ujar Daconi.
Sepanjang 2025, Petrokimia Gresik memproduksi 4,68 juta ton pupuk atau naik 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tren positif ini menunjukkan bahwa BUMN pupuk tersebut mampu tumbuh di tengah tekanan eksternal, sekaligus mendukung target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah.