SULAWESI SELATAN — Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah telah mencapai 6,25%. Level terbaru ini memecahkan rekor terlemah sebelumnya dan menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia pada sesi pagi ini.
Pelemahan Merata di Asia, Rupiah Paling Tertekan
Tekanan terhadap nilai tukar terjadi hampir merata di seluruh Asia. Namun, rupiah mencatat pelemahan paling dalam bersama won Korea Selatan yang turun 0,74%. Berikut pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS pada pagi ini:
- Rupee India: melemah 0,04%
- Yuan China: melemah 0,01%
- Baht Thailand: melemah 0,18%
- Dolar Singapura: melemah 0,09%
- Yen Jepang: melemah 0,08%
- Won Korea Selatan: melemah 0,74%
Dua Sentimen yang Menggerakkan Pasar Hari Ini
Analis Doo Financial Lukman Leong mengidentifikasi dua faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah. Pertama, meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran, yang sempat memicu aksi risk-off global.
"Pelaku pasar masih mencermati kondisi domestik yang dinilai lemah. Investor menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan," ujar Lukman dalam risetnya, Selasa (19/5).
Ekspektasi kenaikan BI rate ini justru membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Alih-alih mendorong penguatan, antisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat justru menahan laju rupiah untuk bangkit secara signifikan.
Proyeksi Pergerakan: Potensi Rebound Terbatas
Meskipun berada di level terlemah, Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat meski terbatas. Ia memproyeksikan nilai tukar akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Investor disarankan mencermati hasil RDG BI yang menjadi katalis utama berikutnya. Keputusan suku bunga akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek di tengah dominasi dolar AS yang masih perkasa.
Investasi mengandung risiko.