MAKASSAR — Hasil uji coba Indikator Yurisdiksi Berkelanjutan (IYB) menempatkan Kabupaten Bone di posisi terdepan dibandingkan daerah lain di Sulawesi Selatan. Dalam sistem penilaian berskala A hingga D, Bone hanya berjarak satu langkah dari Grade B, sementara rata-rata kabupaten/kota lain di provinsi ini masih bertahan di Grade C.
Bone Terpilih dari Empat Daerah Uji Coba Nasional
IYB merupakan sistem penilaian nasional yang dikembangkan Kementerian PPN/Bappenas untuk mengukur capaian keberlanjutan di tingkat kabupaten, dengan fokus awal pada sektor perkebunan. Bone menjadi salah satu dari empat daerah uji coba di Indonesia, bersama Kutai Timur, Sigi, dan Muara Enim.
Pemilihan Bone bukan tanpa alasan. Kabupaten ini memiliki tiga komoditas utama—kelapa, kakao, dan kopi—yang memegang peran strategis dalam rantai pasok komoditas berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan lokal terlibat aktif mengontekstualisasikan indikator IYB agar sesuai dengan karakteristik lapangan.
Tiga Dimensi Penilaian: Lingkungan, Sosial-Ekonomi, dan Tata Kelola
Penilaian IYB mencakup tiga dimensi utama yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Hasilnya dituangkan dalam bentuk grade, dari D (perlu perhatian khusus) hingga A (sangat baik).
Dalam sosialisasi yang digelar di Ruang Rapat Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan, hadir perwakilan dari Bappeda Kabupaten Bone, yakni Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Akifah Aksa, serta Andi Ambaru Keteng dari Bappelitbangda Sulsel. Dari ICRAF Indonesia, hadir M. Syahrir dan Seruni Fauzia Lestari.
Peluang Strategis: Akses Pasar Global Tanpa Beban Sertifikasi Individu
Penerapan IYB membuka sejumlah peluang strategis bagi Bone. Yurisdiksi yang terbukti berkelanjutan berpotensi membuka akses pasar global yang mensyaratkan komoditas bebas deforestasi, tanpa membebani petani dengan biaya sertifikasi secara individu.
Selain itu, hasil penilaian ini juga dapat membuka akses terhadap insentif fiskal maupun non-fiskal dan investasi hijau dari lembaga pembangunan internasional. Landscape Alliance, yang merupakan nama operasional CIFOR dan ICRAF, menjadi bagian dari tim teknis yang mendukung pengembangan metodologi IYB melalui proyek riset-aksi Land4Lives atas dukungan Pemerintah Kanada.
Laporan Keberlanjutan Pertama di Sulsel Jadi Dasar Aksi Nyata
Proses uji coba di Bone melahirkan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) tingkat yurisdiksi, yang disebut sebagai salah satu yang pertama di Sulawesi Selatan. Laporan ini disosialisasikan dalam kegiatan tersebut.
Para pemangku kepentingan di Bone juga telah merumuskan sejumlah aksi prioritas untuk memperkuat performa pada indikator-indikator yang masih perlu ditingkatkan. Tantangan ke depan, menurut penyelenggara, adalah memastikan hasil penilaian ini tidak berhenti di angka, melainkan menjadi dasar bagi langkah nyata di lapangan.
Ke depan, IYB diproyeksikan diterapkan pada 514 kabupaten/kota di Indonesia dan terbuka untuk diperluas ke sektor-sektor lain di luar perkebunan.