Pencarian

Kopi Bantaeng Tembus Pasar Singapura, Belanda, dan Korsel Berkat Sentuhan UMKM Lokal

Kamis, 14 Mei 2026 • 20:39:59 WIB
Kopi Bantaeng Tembus Pasar Singapura, Belanda, dan Korsel Berkat Sentuhan UMKM Lokal
Kopi arabika Bantaeng kini menembus pasar internasional berkat pengembangan UMKM lokal.

BANTAENG — Selama bertahun-tahun, nama Bantaeng nyaris tak terdengar dalam peta kopi nasional. Padahal, varietas arabika tua seperti bourboun, typica, dan heirloom—peninggalan era kolonial Belanda—masih tumbuh subur di dataran tinggi Tompobulu. Paradaya Coffee, UMKM binaan Rumah BUMN, menjadi aktor utama yang mengubah situasi itu.

Pemilik Paradaya Coffee, Hendri Murdani (42), mengaku telah melakukan riset sejak 2022. Ia menemukan bahwa tiga desa penghasil arabika tertinggi di Bantaeng—Labbo, Pattaneteang, dan Bontotappalang—menyimpan potensi besar yang selama ini terabaikan.

"Mungkin di daerah-daerah lain ada juga, cuma tidak sebanyak Bantaeng kalau saya lihat," ujarnya kepada Gosulsel, Selasa (12/5/2026).

Produksi 10-20 Ton di Sentra IKM Banyorang

Setahun setelah riset, Paradaya Coffee mulai membeli dan menjual kopi lokal untuk menguji pasar. Baru pada 2024, produksi mandiri skala besar dimulai. Pengolahan dilakukan di Sentra IKM Pengolahan Kopi Banyorang, Kecamatan Tompobulu—aset milik Pemerintah Kabupaten Bantaeng.

Kapasitas produksi mencapai 10 hingga 20 ton. "Kami bekerja sama memproduksi di sana," kata Hendri.

Untuk pasar nasional, kopi ini sudah menjangkau Jakarta dan sejumlah kota di Sulawesi Selatan melalui pameran dan penjualan langsung ke roastery. Sementara untuk pasar luar negeri, ekspor perdana telah dilakukan ke Singapura, Belanda, dan Korea Selatan meski volumenya masih kecil.

Harga Terjangkau Jadi Daya Tarik Roastery Lokal

Hendri memastikan harga jual biji kopi Paradaya Coffee relatif terjangkau. "Produk kami untuk sekelasnya tidak mahal, justru ini terjangkau," ungkapnya. Permintaan tinggi dari roastery lokal menjadi bukti bahwa strategi harga itu bekerja.

Menurut Hendri, selama ini kopi Bantaeng kurang dikenal karena tidak ada pelaku usaha yang mampu memproduksi dalam skala besar. Paradaya Coffee hadir untuk mengisi celah itu.

BRIncubator: Dari QRIS hingga Pameran Internasional

Pada 2025, Paradaya Coffee mendapat pendampingan dari Rumah BUMN melalui program BRIncubator. Pelatihan mencakup manajemen keuangan, skala bisnis, dan digital marketing. UMKM ini juga difasilitasi untuk mengikuti pameran.

"Kami diajak pameran, produk dipajang. Harganya jauh lebih mahal daripada sekadar bantuan uang tunai. Karena dengan dikenal, orderan datang sendiri," jelas Hendri.

Dukungan BRI juga mendorong digitalisasi transaksi lewat QRIS dan penggunaan aplikasi pengatur keuangan. Hendri berharap pendampingan semacam ini berkelanjutan, tidak hanya di awal.

"Alhamdulillah sejauh ini BRI masih terus memantau kami," tutupnya.

Bagikan
Sumber: gosulsel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks