SULAWESI SELATAN — Jakarta, sinarindonesia.id — Kebijakan baru ini bukan sekadar wacana. Pemerintah menargetkan transformasi perdagangan domestik yang modern dan adaptif, dengan ritel sebagai ujung tombaknya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kuliner dan belanja adalah dua aktivitas utama yang selalu dicari wisatawan di negara mana pun.
“Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja,” ujarnya dalam pembukaan Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 di Jakarta, Rabu (26/8).
Angka Kunjungan Wisatawan yang Bikin Pemerintah Bergerak
Data terbaru menunjukkan mobilitas wisatawan sedang berada di tren naik. Sepanjang Januari–Juni 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta, tumbuh 5,71 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara tercatat 630,41 juta perjalanan.
Potensi yang lebih besar justru datang dari pengeluaran warga Indonesia yang berlibur ke luar negeri. Bank Indonesia mencatat ada sekitar 4,46 juta perjalanan ke luar negeri pada semester I 2026 saja. Nilai pembayaran jasa perjalanannya mencapai 6,7 miliar dolar AS—angka yang ingin "dikunci" pemerintah agar dibelanjakan di dalam negeri.
Ritel Tak Lagi Monopoli Kota Besar
Strategi pemerintah tidak berhenti di mal atau pusat perbelanjaan urban. Ada arahan langsung dari Presiden agar ekosistem ritel menjangkau hingga ke desa. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) disiapkan menjadi agen distribusi barang kebutuhan pokok sekaligus pembeli hasil pertanian dan perikanan lokal.
“Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan. Sekaligus mempunyai tugas sebagai agen untuk membeli barang-barang hasil pertanian ataupun perikanan di daerah masing-masing,” jelas Airlangga.
Dari QRIS hingga Produk Lokal: Ekosistem yang Saling Terhubung
Transformasi ini ditopang infrastruktur pembayaran digital yang sudah matang. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant—96,68 persen di antaranya adalah pelaku UMKM.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menekankan bahwa penguatan sektor ini harus menyentuh seluruh rantai. “Transformasi perdagangan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan aktivitas belanja, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen dalam negeri, hingga sistem pembayaran dan distribusi,” ujarnya.
Dengan ekosistem yang terintegrasi, wisata belanja diharapkan tidak hanya menjadi tujuan sekunder, tetapi alasan utama seseorang bepergian. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen dan Indeks Keyakinan Konsumen di level 116,8 pada Juli 2026 memberi ruang optimisme bagi pelaku industri.
Bagi perencana liburan, perkembangan ini patut dicermati. Kombinasi antara ritel modern, dukungan pembayaran digital, dan produk lokal yang semakin terkurasi akan mengubah cara kita berbelanja saat traveling—tanpa perlu terbang jauh untuk mendapatkan pengalaman belanja kelas dunia.