SULAWESI SELATAN — Menjadi ibu adalah peran penuh waktu, tapi bukan berarti Bunda tidak boleh punya waktu untuk diri sendiri. Sayangnya, banyak orang tua yang justru merasa bersalah setiap kali ingin beristirahat sejenak dari rutinitas mengasuh anak. Padahal, kebutuhan ini wajar dan justru penting untuk kesehatan mental.
Psikiater bersertifikasi dari Mindpath Health, Zishan Khan, MD, mengingatkan bahwa orang tua perlu berwelas asih terhadap diri sendiri. "Itu berarti Anda menyadari keterbatasan Anda, yang merupakan kesadaran yang sehat dan bertanggung jawab. Sama seperti anak-anak membutuhkan tidur siang untuk menghindari tantrum, orang tua membutuhkan 'istirahat' mental dan emosional untuk tampil sebagai diri mereka yang terbaik," jelasnya.
Mengapa Anak Sulit Memberi Ruang untuk Bunda?
Anak yang lengket sebenarnya bukan tanpa alasan. Di mata mereka, kehadiran Bunda adalah sumber rasa aman. Ketika Bunda tiba-tiba menarik diri, anak bisa merasa bingung dan cemas, apalagi jika ia belum paham konsep waktu.
Alih-alih memahami permintaan Bunda untuk menenangkan diri, anak justru bisa mengartikannya sebagai penolakan. Karena itu, cara Bunda menyampaikan kebutuhan ini menjadi kunci utama.
Ubah Cara Berkomunikasi dengan Bahasa yang Menenangkan
Dr. Zhan menyarankan agar kebutuhan me time disampaikan sebagai kegiatan yang universal, bukan karena Bunda ingin menjauh darinya. Gunakan bahasa yang menenangkan dan mudah dipahami anak seusianya.
Bunda bisa mencoba kalimat seperti, "Setiap orang butuh waktu untuk mengistirahatkan otaknya, jadi Bunda akan meluangkan sedikit waktu tenang agar punya lebih banyak energi untuk bermain denganmu nanti." Atau, "Bunda akan meluangkan waktu untuk berpikir, dan setelah itu, kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama!"
Ungkapan seperti ini memperjelas bahwa waktu sendirian Bunda bersifat sementara dan bukan sebuah penolakan. Anak akan paham bahwa ia tidak sedang ditinggalkan, hanya menunggu sebentar.
1. Manfaatkan Waktu Menunggu untuk Hal Produktif
Salah satu trik agar me time tetap berjalan tanpa mengabaikan anak adalah dengan melakukan kegiatan yang bisa ditunggu. Misalnya, saat mencuci pakaian dengan mesin cuci, Bunda bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat atau membaca buku favorit.
Dengan begitu, Bunda tetap berada di rumah dan bisa memantau anak, tapi juga punya jeda untuk mengisi energi.
2. Sadari Keterbatasan Waktu dan Fokus pada Hal yang Nyata
Waktu yang Bunda miliki sangat terbatas, jadi jangan sia-siakan untuk hal yang tidak penting. Hindari kebiasaan berselancar di media sosial tanpa tujuan yang jelas.
Gunakan waktu jeda tersebut untuk melakukan sesuatu yang benar-benar mengembalikan energi Bunda, seperti meditasi singkat, menulis jurnal, atau sekadar menikmati camilan hangat.
3. Libatkan Anggota Keluarga Lain
Tidak semua hal harus Bunda tanggung sendiri. Meminta bantuan anggota keluarga lain, seperti suami atau kakek-nenek, untuk mengasuh anak selama beberapa jam bisa memberi Bunda ruang istirahat yang lebih lama.
Ini bukan tanda Bunda lemah, melainkan cara cerdas untuk menjaga keseimbangan. Anak juga akan belajar membangun kedekatan dengan anggota keluarga lainnya.
4. Jangan Ragu untuk Mencari Bantuan Profesional
Jika Bunda merasa kewalahan secara terus-menerus dan sulit menikmati waktu bersama anak, mungkin sudah waktunya untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau konselor keluarga. Mereka bisa membantu Bunda menemukan strategi pengasuhan yang lebih sesuai dengan kondisi emosional Bunda dan Si Kecil.
Ingat, ibu yang bahagia dan berenergi akan lebih mampu memberikan kasih sayang yang berkualitas. Meluangkan waktu untuk diri sendiri bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan agar Bunda bisa tampil sebagai versi terbaik untuk keluarga.