Pencarian

Harga Telur di Sulsel Jauh di Bawah HPP, Peternak Rugi Rp3.000 per Rak Selama 4 Bulan

Kamis, 13 Agustus 2026 • 11:49:31 WIB
Harga Telur di Sulsel Jauh di Bawah HPP, Peternak Rugi Rp3.000 per Rak Selama 4 Bulan
Harga telur di Sulawesi Selatan dijual Rp20.000-Rp21.000 per rak, jauh di bawah HPP Rp43.500-Rp45.000.

MAKASSAR — Aliansi Peternak Rakyat Sulawesi membeberkan tekanan biaya produksi yang membuat usaha ayam petelur di Sulawesi Selatan terancam kolaps. Selisih antara harga jual dan biaya produksi yang mencapai lebih dari Rp20.000 per rak disebut telah menggerus modal para peternak selama empat bulan terakhir.

Basuki Suyuti, perwakilan Aliansi Peternak Rakyat Sulawesi, mengungkapkan bahwa lonjakan biaya pakan menjadi biang keladi utama. Kenaikan harga konsentrat sejak April hingga Mei 2026 disebut menambah beban biaya produksi secara signifikan.

HPP Rp45.000, Peternak Hanya Mampu Jual Rp21.000

“Kalau hari ini kita bicara harga telur, Sulawesi Selatan posisinya Rp20.000. Maksimal bisa jual di end user itu Rp22.000. Secara market umum itu Rp20.000-Rp21.000,” kata Basuki dalam RDP.

Di sisi lain, harga campuran pakan ternak saat ini telah mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram. Angka ini membuat HPP produksi telur berada di kisaran Rp43.500 hingga Rp45.000 per rak, jauh melampaui harga jual di pasar.

“Rata-rata campuran itu di Rp7.500 per kilogram pakan ternak. Itu artinya HPP peternak Rp43.500 sampai Rp45.000,” ujarnya.

Kerugian Berlipat Setiap Hari Selama Empat Bulan

Dengan harga jual yang hanya mampu mencapai Rp40.000 per rak di beberapa titik, Basuki menyebut peternak harus menombok biaya produksi. Kerugian tersebut diklaim terjadi setiap hari sejak April hingga Juli 2026.

“Kalau kita jual Rp40.000, artinya kita menambah Rp3.000. Rp3.000 dikalikan berapa produksi rak setiap hari di peternakan-peternakan, itulah kerugian peternak mulai dari April, Mei, Juni, Juli,” tutur Basuki.

Ia menegaskan, kondisi ini mulai menghabiskan cadangan aset para peternak untuk sekadar menutup biaya operasional harian. “Ini sudah mau habis yang bisa digadaikan,” tegasnya.

Soal Bungkil Kedelai, Peternak Minta Transparansi Harga

Selain harga pakan jadi, peternak juga menyoroti struktur pembentukan harga soybean meal atau bungkil kedelai. Komoditas ini berkontribusi sekitar 22-25 persen dalam komposisi bahan baku pakan, sehingga pergerakan harganya berdampak langsung pada biaya produksi.

Basuki mempertanyakan selisih harga yang cukup lebar antara harga di main port dan harga yang dilepas oleh BUMN Berdikari. Ia menyebut harga soybean meal di pelabuhan utama Surabaya atau Jakarta setara Rp6.800-Rp6.900 per kilogram, sementara harga dari Berdikari disebut berada di kisaran Rp8.600-Rp8.750 per kilogram.

“Harus ada transparansi di sini struktur pembentukan harga. Kalau hari ini kita mau beli soybean meal, harganya sampai di Indonesia di main port Surabaya atau Jakarta itu setara dengan Rp6.800 sampai Rp6.900,” katanya.

Peternak Dukung Sentralisasi Impor, Asalkan Harga Lebih Murah

Menanggapi kebijakan kuota impor yang dikelola BUMN, Basuki menegaskan bahwa peternak tidak menolak kebijakan tersebut. Namun, ia menilai sentralisasi justru harus mampu menekan harga bahan baku menjadi lebih efisien, bukan sebaliknya.

“Kami sebagai peternak sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk sentralisasi atau kuota impor. Yang penting adalah kesiapan infrastruktur, logistik dan sebagainya itu ada. Yang peternak mau tahu adalah harganya lebih murah,” jelasnya.

Ia meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan tersebut apabila pada praktiknya justru membuat biaya produksi semakin tinggi dan memberatkan peternak rakyat di Sulawesi Selatan.

Follow sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarmakassar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks