Pencarian

Gubernur Sulawesi Selatan Terima Tuntutan Peternak Soal Pakan dan Harga Telur

Senin, 10 Agustus 2026 • 15:54:31 WIB
Gubernur Sulawesi Selatan Terima Tuntutan Peternak Soal Pakan dan Harga Telur
Ratusan peternak menggelar unjuk rasa di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Senin (10/8/2026).

MAKASSAR — Ratusan peternak yang tergabung dalam Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi menggelar unjuk rasa di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Senin (10/8/2026). Mereka menyuarakan keterpurukan usaha akibat melonjaknya harga pakan yang tidak sebanding dengan anjloknya harga jual telur di pasaran.

Penanggung Jawab Aksi, Basuki Suyuti, menyatakan ketimpangan harga ini telah berlangsung selama empat bulan terakhir. Para peternak mengaku menanggung kerugian setiap harinya akibat selisih biaya produksi dan harga jual yang tidak seimbang.

"Dampaknya, harga pakan cukup tinggi, sementara harga telur anjlok. Setiap hari kami harus menomboki Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per rak telur," ujar Basuki di tengah aksi.

Pembagian Ayam dan Telur Gratis

Sebagai bentuk protes, para peternak membagikan ayam dan telur secara gratis kepada masyarakat yang melintas di jalan raya depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Aksi ini dilakukan sebagai simbol kepasrahan atas kondisi yang dinilai mencekik.

"Hari ini kita bagi-bagikan ayam dan telur ke masyarakat sebagai simbol bahwa kita sudah tidak mampu lagi memberi makan ayam. Daripada dijual rugi, lebih baik kita sedekahkan," tutur Basuki.

Basuki menjelaskan, harga pakan jenis konsentrat mengalami kenaikan bertahap sejak Mei lalu hingga menyentuh angka Rp 9.000 sampai Rp 9.500 per kilogram dari harga semula sekitar Rp 8.000 per kilogram. Adapun pakan campuran peternak kini berada di kisaran Rp 7.500 per kilogram.

Kebijakan Impor dan Dampaknya

Basuki mengungkapkan kondisi ini diperparah oleh skema baru kebijakan impor bahan baku pakan yang dinilai tidak siap secara logistik. Kebijakan tersebut memicu kelangkaan pasokan di pasar.

"Setelah di-handle BUMN dan ada kebijakan baru seperti porsi 60 persen ke BUMN dan 40 persen ke trader, tidak ada kesiapan logistik dengan stok. Pasar mengalami keterbatasan, pabrik pakan berebutan, dan per Juli ini biaya langsung dibebankan ke peternak," kata Basuki.

Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak saat ini merosot ke angka Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram atau sekitar Rp 38.000–Rp 40.000 per rak. Angka tersebut jauh di bawah target Harga Acuan Penjualan (HAP) yang disetujui pemerintah, yakni Rp 26.500 per kilogram.

Tujuh Tuntutan Peternak

Dalam aksi tersebut, perwakilan peternak menyusun tujuh poin tuntutan utama yang diserahkan kepada Pemprov Sulawesi Selatan untuk diteruskan ke pemerintah pusat:

  • Menurunkan harga pakan untuk menekan biaya produksi.
  • Memastikan ketersediaan jagung sesuai HAP jelang ancaman El Nino.
  • Menaikkan dan menstabilkan harga telur sesuai HAP.
  • Menstabilkan pasokan dan harga Day Old Chick (DOC).
  • Menegakkan Permentan terkait pembatasan integrator dengan kuota 98:2.
  • Menghapus monopoli kuota impor bahan pakan.
  • Mendorong pembentukan Kementerian Peternakan.

Aspirasi dan surat tuntutan tersebut diterima langsung oleh perwakilan Asisten I dan Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan. Basuki berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret sebelum semakin banyak peternak rakyat yang gulung tikar.

"Permasalahan di dunia peternakan sangat kompleks dan krusial. Butuh peran penuh pemerintah untuk menjaga kelangsungan usaha peternakan rakyat ke depan," kata Basuki.

Follow sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: makassar.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks