SULAWESI SELATAN — Space Force AS tidak ingin lagi terjebak dalam birokrasi peluncuran yang memakan waktu berbulan-bulan. Mereka tengah melatih prosedur peluncuran roket yang bisa dipicu dalam hitungan jam — mirip scramble jet tempur yang lepas landas dalam beberapa menit setelah alarm berbunyi. Tujuannya: jika satelit militer tiba-tiba mati, dirusak, atau bahkan berubah menjadi ancaman, penggantinya bisa langsung dikirim ke orbit tanpa menunggu siklus perencanaan tahunan.
Scramble untuk Orbit: Dari Bulan ke Jam
Dalam latihan terbaru, Space Force menguji seberapa cepat mereka bisa mengaktifkan roket yang sudah dalam status siaga. Hasilnya, waktu yang dibutuhkan turun drastis dari rata-rata 24 bulan menjadi kurang dari 24 jam untuk beberapa skenario darurat. Ini bukan sekadar latihan meja — kru darat benar-benar mengisi propelan, menjalankan checklist, dan menghitung mundur dalam tekanan waktu.
“Kami harus berpikir ulang tentang apa arti 'siap' untuk peluncuran,” ujar seorang perwira Space Force dalam pernyataan internal. “Jet tempur bisa lepas landas dalam 5 menit setelah alarm. Roket tidak bisa secepat itu, tapi kami memangkas waktu dari bulan ke jam.”
Ancaman di Orbit Makin Nyata, Respons Makin Dituntut Cepat
Dorongan ini muncul seiring meningkatnya jumlah puing antariksa dan potensi serangan terhadap satelit milik AS. Jika sebuah satelit komunikasi atau navigasi hancur — baik karena tabrakan, gangguan elektromagnetik, atau serangan kinetik — dampaknya langsung terasa di operasi militer darat, laut, dan udara. Space Force tidak ingin kehilangan kemampuan kunci hanya karena harus menunggu roket siap setahun lagi.
Dalam skenario terburuk, satelit yang sudah di orbit pun bisa berubah menjadi ancaman jika sistem kendalinya gagal atau dibajak. Kemampuan meluncurkan pengganti secara cepat menjadi asuransi operasional yang vital.
Peluncuran Komersial Jadi Model, Tapi dengan Standar Militer
Space Force mengadopsi pendekatan yang sudah dipakai perusahaan roket swasta seperti SpaceX dan Rocket Lab, yang terbiasa meluncur dalam jadwal padat. Bedanya, standar militer menuntut verifikasi keamanan dan enkripsi data yang lebih ketat. Setiap roket yang masuk program "tactically responsive launch" harus sudah terintegrasi dengan satelit cadangan yang disimpan di gudang khusus.
“Kami tidak bisa begitu saja meminjam jadwal peluncuran komersial,” tambah perwira yang sama. “Tapi filosofi 'cepat dan dapat diandalkan' itu yang kami tiru.”
Indonesia Belum Sampai ke Level Itu, Tini tapi Belajar
Bagi pengamat pertahanan Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan pergeseran doktrin antariksa global. Selama ini, peluncuran satelit militer selalu direncanakan bertahun-tahun. Jika Indonesia ingin memiliki kemampuan serupa di masa depan — misalnya untuk satelit komunikasi pertahanan — model respons cepat ala Space Force bisa jadi tolok ukur. Tapi untuk sekarang, fokus utama masih pada penguatan infrastruktur darat dan sumber daya manusia di sektor antariksa nasional.