SULAWESI SELATAN — Merujuk data Bloomberg, pantauan hingga pukul 09.10 WIB menempatkan rupiah di level Rp 17.607 per dolar AS, naik 0,02% atau 4 poin. Angka ini masih jauh dari posisi penutupan pekan lalu di Rp 17.547, yang membuat rupiah secara akumulatif melemah 0,36% dalam sehari.
Pergerakan tipis di awal sesi tidak mencerminkan arah sebenarnya. Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah justru akan berbalik melemah sepanjang hari ini.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kenaikan kembali pada imbal obligasi AS," ujar Lukman.
Imbal Obligasi AS Naik, Dolar Kembali Perkasa
Data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar memaksa pelaku pasar menyesuaikan posisi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali naik, dan itu secara langsung memperkuat daya tarik dolar terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Bagi investor asing yang menempatkan dana di Surat Berharga Negara (SBN), selisih imbal hasil yang menyempit mengurangi daya tarik obligasi Indonesia. Kondisi ini biasanya tercermin dari net sell di pasar SBN dan tekanan lanjutan ke kurs.
Harga Minyak US$100 Perparah Tekanan Inflasi Global
Sentimen negatif kedua datang dari pasar energi. Harga minyak mentah Brent kembali berada di atas US$100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Lukman menilai kenaikan harga minyak menjadi faktor pemberat bagi rupiah karena meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, menghadapi risiko kenaikan biaya energi yang berimbas ke neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Pasar juga mencermati risiko gangguan pasokan energi jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan. Setiap eskalasi baru berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperbesar tekanan ke mata uang negara berkembang.
Rentang Gerak Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.550 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan volatilitas yang masih tinggi, dengan bias pelemahan jika data eksternal tidak membaik.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, rentang ini bisa menjadi acuan untuk mengatur waktu pembelian valas. Sementara investor obligasi perlu mencermati pergerakan imbal hasil SBN dan arus modal asing untuk mengukur arah lanjutan.
Pasar menanti konfirmasi apakah kenaikan imbal obligasi AS bersifat sementara atau berlanjut. Jika berlanjut, ruang penguatan rupiah akan semakin sempit dalam beberapa sesi ke depan. Investasi mengandung risiko.