MAKASSAR — Sidang terbuka promosi doktor di Program Studi Pendidikan Agama Islam Unismuh Makassar berlangsung Senin (31/8). Syamsul Hidayat dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude setelah mempertahankan disertasi berjudul "Peran Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan".
Rektor Unismuh Makassar, Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, MT, IPU, yang memimpin sidang menyebut Syamsul menyelesaikan pendidikan doktor dalam waktu 2 tahun 11 bulan 30 hari. Indeks prestasi kumulatifnya 3,98 dengan nilai disertasi dan ujian promosi rata-rata 94,10. Syamsul juga tercatat telah mempublikasikan risetnya di jurnal ilmiah bereputasi.
"Syamsul Hidayat dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude," kata Rakhim Nanda saat membacakan keputusan sidang.
Pesantren Tak Lagi Bergantung pada Figur Kiai
Temuan utama riset Syamsul menunjukkan pesantren Muhammadiyah di Sulsel sedang mengalami pergeseran model pengelolaan. Melalui LP2M, pola manajemen bergerak dari ketergantungan pada figur menuju kepemimpinan kolektif-kolegial yang transparan dan berbasis sistem.
Dalam disertasinya, Syamsul menyebut perubahan ini sebagai konsep "neo-pesantren Muhammadiyah". Model tersebut mempertemukan kesalehan dan otoritas keilmuan pesantren dengan efisiensi manajemen modern, termasuk pengembangan sumber daya manusia dan penjaminan mutu.
"Model tata kelola baru ini melahirkan konsep 'neo-pesantren' Muhammadiyah," tulis Syamsul dalam disertasinya.
42 Persen Guru Pesantren Belum Punya Sertifikasi
Riset ini menemukan LP2M tidak hanya menjalankan fungsi regulasi, tetapi juga pembinaan intensif melalui kunjungan lapangan, supervisi akademik, lokakarya, coaching, hingga pendampingan daring. Monitoring dan evaluasi dilakukan minimal dua kali setahun mencakup kepemimpinan, kurikulum, SDM, keuangan, dan karakter santri.
Salah satu temuan penting: pemetaan melalui Database PontrenMu menunjukkan sekitar 42 persen guru pesantren belum memiliki sertifikasi kompetensi pedagogik. Data ini kemudian menjadi dasar penyusunan pelatihan dan pengembangan kompetensi guru secara lebih terarah.
Pada aspek kurikulum, LP2M mengembangkan model yang mempertemukan diniyah, sains, dan Kemuhammadiyahan. Santri tetap diarahkan menguasai literatur Islam klasik dan bahasa Arab, tetapi juga dibekali keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Peta Keunggulan Pesantren di Sulsel
Syamsul menegaskan standardisasi tidak berarti menyeragamkan karakter pesantren. Setiap lembaga justru dikembangkan berdasarkan potensi dan keunggulannya masing-masing.
Penelitiannya memetakan sejumlah pesantren unggulan: Darul Arqam Cece dan Darul Arqam Balassuka sebagai calon pusat pesantren agribisnis; Darul Fallah Bissoloro sebagai model Trensains; Darul Arqam Gombara dan Punnia untuk kaderisasi ulama-intelektual; Ma'had Fathul Muin untuk tahfiz; Ummul Mukminin untuk kewirausahaan; serta MBS Palopo sebagai model sekolah berasrama Muhammadiyah.
Promotor Prof Dr H Bahaking Rama, MS, menekankan posisi strategis pesantren bagi keberlanjutan organisasi. "Pesantren ini adalah masa depan Muhammadiyah," ujarnya. Ia meminta Syamsul terus mengembangkan ilmu dan mengamalkannya dalam pendidikan pesantren.
Kiprah Organisasi Sejak IPM
Jejak Syamsul lekat dengan organisasi Muhammadiyah. Pria kelahiran Makassar ini pernah menjabat Sekretaris Umum PC IPM Pao Tombolo (2009-2011), Ketua Umum PD IPM Gowa (2012-2014), lalu Ketua Umum PW IPM Sulsel (2016-2018). Ia juga aktif sebagai Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel bidang kaderisasi.
Pendidikannya ditempuh mulai dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah Datarang, lalu mengikuti Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Unismuh Makassar sebelum melanjutkan ke jenjang S1, S2, hingga S3 di kampus yang sama.