Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menyalurkan bantuan pompanisasi dan program listrik masuk sawah untuk memastikan produksi beras tetap maksimal di tengah fenomena El Nino. Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengakui dampak kekeringan memang ada, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil panen. Saat ini, sejumlah wilayah di kabupaten yang dijuluki 'Bumi Nene Mallomo' ini masih mampu memproduksi gabah hingga 12,3 ton per hektare.
SIDRAP — Pemerintah Kabupaten Sidrap memastikan ketahanan pangan tetap terjaga meski fenomena El Nino melanda sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Berbagai intervensi teknis dilakukan agar lahan persawahan yang terdampak kekeringan tetap produktif dan tidak mengganggu pasokan beras ke kota-kota besar seperti Makassar.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengungkapkan, dampak El Nino terhadap sektor pertanian di daerahnya tidak sebesar yang dikhawatirkan. Hal ini berkat upaya percepatan penyaluran sarana dan prasarana pendukung bagi petani.
"Dampak El Nino memang ada, tetapi tidak berpengaruh besar pada hasil panen di Sidrap. Kami berupaya membantu petani mendapatkan air untuk sawah mereka dengan bantuan sarana dan prasarana," tuturnya saat bincang lepas bersama wartawan di Hotel Claro, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu.
Bantuan Pompa dan Listrik Masuk Sawah Jadi Kunci
Kepala DTPHPKP Sidrap Ibrahim menjelaskan, pihaknya telah menyalurkan bantuan berupa pompa air, bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, tabung gas LPG, serta token listrik kepada kelompok tani. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga tanaman padi tetap terairi hingga masa panen tiba.
"Kita sudah menyerahkan bantuan pompa dan BBM Pertalite, tabung gas LPG, serta token listrik. Ini dilakukan agar petani kita bisa merawat padi sampai panen dengan hasil maksimal," kata Ibrahim.
Program intervensi ini tercatat telah menjangkau 2.193 titik bor di titik sasar. Fasilitas tersebut digunakan untuk melayani area persawahan seluas 10.965 hektare yang terdampak kekeringan.
Produksi Gabah Capai 663.000 Ton Per Tahun
Kabupaten Sidrap memiliki luas baku lahan persawahan mencapai 52.227 hektare dari total wilayah 188.325 hektare. Rinciannya, sekitar 34 ribuan hektare merupakan sawah irigasi dan 22 ribuan hektare lainnya adalah sawah tadah hujan.
Dari luasan tersebut, produksi gabah kering panen (GKP) di Sidrap rata-rata mencapai 434.000 ton hingga 663.000 ton per tahun. Hasil produksi gabah per hektarenya berada di kisaran 10 hingga 12 ton di masa panen normal.
Meski di tengah kondisi kekeringan ekstrem, sejumlah wilayah justru menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae, lahan seluas 52 hektare yang menerapkan pola tanam IP300 atau memanen tiga kali setahun, masih menghasilkan antara 10 ton hingga 12,3 ton gabah per hektare.
Petani Buktikan Lahan Tetap Produktif
Sejumlah petani di pedesaan juga membuktikan bahwa produktivitas tetap terjaga. Di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, petani Idris Lakna baru saja memanen 10 ton gabah per hektare dengan nilai hasil mencapai Rp83 juta dalam sekali panen.
Kondisi serupa terjadi di Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue. Lahan baku persawahan seluas 481 hektare di desa tersebut turut mendapatkan hasil panen rata-rata 10 ton per hektare.
Bupati Syaharuddin menambahkan, masyarakat di perkotaan seperti Makassar mungkin tidak merasakan dampak langsung El Nino lantaran distribusi pangan yang berjalan lancar. Namun, ia meminta publik memahami kerja keras para petani di daerah yang berjuang melawan kekeringan.
"Mungkin, yang tinggal di Ibu Kota seperti di Makassar itu tidak begitu merasakan. Tapi, kalau punya keluarga di daerah, coba ditanyakan sendiri bagaimana kerja keras mengatasi dampak kekeringan ini," ucapnya.