GOWA — Empat dusun di Desa Lonjoboko, Kabupaten Gowa, kini memiliki bekal pengetahuan baru soal mitigasi tanah longsor. Tim mahasiswa Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program bernama Pakkatuju, sebuah sosialisasi pra-bencana yang berlangsung selama dua hari pada Kamis hingga Jumat (11-12 Juni 2026).
Animasi Visual untuk Memetakan Zona Rawan Longsor
Pada hari pertama, kegiatan dipusatkan di kediaman Kepala Dusun Tombongi. Mahasiswa menghadirkan Ir. Furqan Ali Yusuf, M.Eng., IPM. dari Forum Insinyur Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FIM PII) Sulsel sebagai narasumber. Ia menggunakan tayangan animasi untuk menjelaskan karakteristik lokasi rawan longsor di desa tersebut.
“Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat ini harus memberikan dampak nyata yang berkelanjutan, jangan hanya sekadar datang ke desa,” pesan Furqan di sela-sela materinya.
Melalui pendekatan visual, warga diajak memahami proses terjadinya longsor dan langkah penyelamatan yang harus diambil. Furqan juga mengingatkan agar masyarakat tidak lengah dan selalu peka terhadap perubahan kondisi alam di sekitar tempat tinggal mereka.
Slogan Tangguh Bencana dan Ilmu di Balik Longsor
Edukasi berlanjut pada hari kedua di Aula Kantor Desa Lonjoboko. Kepala Pusat Studi Kebencanaan Unhas sekaligus perwakilan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ilham Alimuddin, S.T., MGIS., Ph.D., menjadi pembicara utama. Sesi ini berlangsung interaktif. Ilham mengajak peserta menggaungkan slogan kesiapsiagaan untuk memotivasi pemuda desa.
“Salam tangguh! Tangguh, tangguh, tangguh, luar biasa!” seru para peserta dengan kompak.
Ilham kemudian mengupas proses ilmiah longsor dengan bahasa sederhana. Ia menggambarkan bagaimana air meresap ke dalam tanah hingga mencapai lapisan kedap air. Akibatnya, struktur tanah menjadi licin dan bergerak runtuh mengikuti kemiringan lereng.
“Terkait bencana alam, memang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Namun, kita bisa melakukan banyak hal untuk mengurangi risikonya,” ujar Ilham.
Empat Dusun Terjangkau, dari Tombongi hingga Bontoloe
Program Pakkatuju ini berhasil menjangkau warga dari empat dusun secara bergilir. Sesi pertama merangkul warga Dusun Tombongi dan Kampung Beru. Sesi kedua melibatkan masyarakat dari Dusun Galesong dan Bontoloe. Selain masyarakat umum, perangkat desa, Bhabinkamtibmas, tokoh RT/RW, pengurus Karang Taruna, kelompok perempuan, hingga anak-anak turut berpartisipasi aktif.
Tim PPK Ormawa SPACE FT-UH berharap masyarakat Desa Lonjoboko kini memiliki bekal pengetahuan yang cukup. Dengan begitu, warga mampu mengenali potensi bahaya di lingkungan mereka serta meresponsnya secara cepat dan tepat demi keselamatan bersama.