MAKASSAR — Perubahan iklim tidak bisa lagi dilihat sebelah mata sebagai isu lingkungan semata. Dalam diskusi bedah buku yang digelar Kampus Gagasan, krisis ini justru disebut sebagai bentuk krisis dari model ekonomi kapitalisme yang bertumpu pada eksploitasi energi fosil dan pertumbuhan tanpa henti.
Gagasan tersebut mengemuka dalam bedah buku Bumi yang Tak Dapat Dihuni yang berlangsung secara daring melalui Zoom, Sabtu (8/8/2026). Buku karya jurnalis Amerika Serikat, David Wallace-Wells, itu dibedah oleh Siti Nur Alisa, pengabdi bantuan hukum pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, dan dimoderatori Nurhikmah, relawan Perpustakaan Kampus Gagasan.
Biaya Ekologis di Balik Industrialisasi
Lisa, sapaan Siti Nur Alisa, menguraikan bahwa industrialisasi yang selama ini menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi memiliki ongkos tersembunyi. Aktivitas industri memang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan, tetapi pada saat bersamaan memicu emisi, pencemaran, hingga eksploitasi sumber daya alam.
"Masalah perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga merupakan krisis terhadap model ekonomi kapitalisme yang menawarkan pertumbuhan ekonomi," ujar Lisa dalam pemaparannya.
Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang dikejar selama ini tidak pernah memperhitungkan kerusakan ekosistem sebagai beban. Padahal, daya dukung lingkungan memiliki keterbatasan yang nyata.
Mencari Model Ekonomi yang Tak Merusak Bumi
Diskusi kemudian berkembang pada pertanyaan mendasar: apakah persoalan lingkungan bisa diselesaikan di dalam sistem ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan, atau justru membutuhkan perubahan paradigma pembangunan secara menyeluruh?
Peserta yang hadir dari beragam latar belakang turut mendiskusikan kemungkinan model ekonomi baru. Model tersebut dinilai harus mampu memperhitungkan keberlanjutan bumi sekaligus tetap menjamin kesejahteraan masyarakat.
Rektor Kampus Gagasan, Diarmila, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaganya memperkuat literasi di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, aktivitas literasi tidak berhenti setelah seseorang selesai membaca.
"Literasi tidak boleh berhenti pada membaca, ia perlu berlanjut pada tahap diskusi. Salah satu alternatifnya adalah bedah buku. Hal ini bertujuan untuk menguji gagasan terhadap relevansinya dengan persoalan sekarang sehingga kita terbiasa melihat berbagai persoalan secara lebih kritis," kata Diarmila.
Literasi sebagai Ruang Menguji Gagasan
Melalui bedah buku ini, Kampus Gagasan mendorong literasi menjadi ruang untuk menguji ide dan mendiskusikan persoalan sosial, ekonomi, serta lingkungan secara kritis. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang bagi publik untuk memahami keterkaitan antara kebijakan ekonomi, industrialisasi, dan masa depan lingkungan hidup.