MAKASSAR — Sebuah kasus kriminal dengan modus operandi baru menghebohkan Sulawesi Selatan. Seorang mahasiswi berinisial MA (21) asal Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi korban setelah tergiur tawaran pekerjaan sebagai babysitter yang dijanjikan gaji besar. Pelaku, yang dikenal korban melalui media sosial Facebook, bukan mempekerjakannya, melainkan menyekap dan memperkosanya di lokasi yang diduga berada di Sulsel.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPPPA Dalduk KB) Sulsel, Meisy Papayungan, mengkonfirmasi bahwa modus ini merupakan fenomena baru di wilayahnya. "Ini juga fenomena baru ya, bagaimana penipuan melalui media sosial, tawaran lowongan kerja, dan yang kasus kemarin itu salah satunya bentuknya gitu ya, ditawarkan untuk bekerja sebagai babysitter," ujarnya kepada media, Kamis (21/5/2026).
Umpan Gaji Tinggi dan Manipulasi di Media Sosial
Menurut Meisy, modus penipuan loker online memiliki banyak versi, namun tujuannya sama: eksploitasi seksual. Pelaku biasanya memikat korban dengan nominal gaji yang jauh di atas kewajaran. Bagi perempuan muda yang tengah mencari pekerjaan, tawaran semacam itu menjadi umpan yang sangat menggiurkan dan sulit ditolak.
"Karena misalnya ada penawaran gaji yang agak di atas, atau jauh lebih tinggi dari kenormalan, please tolong hati-hati, konfirmasi dulu, cross-check dulu," tegas Meisy. Ia menambahkan, profesi babysitter mungkin tidak dicurigai sebelumnya karena belum banyak dimanfaatkan sebagai modus kejahatan, sehingga para pelaku berhasil "lolos" dan menjerat korbannya.
Pentingnya Literasi dan Verifikasi Berlapis
Maraknya kasus ini mendorong DPPPA Dalduk KB Sulsel untuk kembali menekankan pentingnya literasi digital bagi masyarakat, khususnya perempuan muda. Meisy Papayungan mengingatkan agar setiap pencari kerja melakukan pengecekan berlapis terhadap identitas pemberi kerja dan kredibilitas perusahaan.
"Harusnya kita punya kewaspadaan dong, kita harus tahu dulu siapa pemberi kerja, kemudian bagaimana pekerjaannya, sekarang kita harus mulai belajar kritis lah," ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa kekerasan seksual seringkali tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan manipulatif, seperti sentuhan fisik ringan yang dianggap biasa hingga ajakan ke tempat sepi tanpa kamera pengawas (CCTV).
Kesulitan Pembuktian dan Pentingnya Pencegahan Dini
Meisy membeberkan bahwa pelecehan fisik di lingkungan kerja seringkali sulit dibuktikan secara hukum karena minimnya bukti autentik. "Tapi kemudian sebelum itu berkembang, walaupun kemarin agak susah dibuktikan karena tidak kelihatan di CCTV, tapi setidaknya dia punya upaya untuk mencegah jangan sampai kejadian yang lebih fatal itu terjadi," katanya, merujuk pada upaya korban yang melapor sebelum kekerasan yang lebih parah terjadi.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa modus kejahatan terus beradaptasi. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada tawaran pekerjaan yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, terutama yang berasal dari kontak pribadi di media sosial tanpa verifikasi yang jelas.