Pencarian

Waka MPR Eddy Soeparno: BUMN Tak Cukup Cetak Laba, Harus Jadi Mesin Keadilan Sosial

Sabtu, 08 Agustus 2026 • 10:15:31 WIB
Waka MPR Eddy Soeparno: BUMN Tak Cukup Cetak Laba, Harus Jadi Mesin Keadilan Sosial
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyampaikan pandangan mengenai peran BUMN dalam acara TJSL & CSR Award BUMN Track 2026 di Jakarta, Jumat (7/6/2026).

SULAWESI SELATAN — Jakarta — Pertanyaan soal peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tengah masyarakat kembali mengemuka. Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa transformasi perusahaan negara tidak boleh berhenti pada perbaikan tata kelola dan kinerja bisnis semata. Ia mendorong agar korporasi seperti Pertamina, PLN, hingga BRI mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi publik.

"Keberhasilan BUMN memang tercermin dari meningkatnya nilai perusahaan, harga saham, dividen kepada negara, maupun pangsa pasar. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah keberhasilan tersebut juga menghadirkan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial," ujar Eddy dalam sambutannya sebagai Ketua Dewan Juri Kehormatan TJSL & CSR Award BUMN Track 2026, Jumat (7/6/2026).

BUMN Wajib Tampil sebagai Agen Perubahan

Menurut Eddy, perjalanan BUMN dari era Perusahaan Negara (PN) hingga menjadi korporasi modern yang kompetitif di kancah global memang patut diapresiasi. Namun, babak berikutnya yang lebih krusial adalah bagaimana perusahaan negara mampu menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder value), bukan hanya untuk pemegang saham.

Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dinilai telah berkembang pesat. Kegiatan filantropi sesaat seperti pemberian bantuan sosial kini tidak lagi relevan. TJSL justru harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.

"BUMN harus tampil sebagai agent of change sekaligus agent of social justice. Kehadiran BUMN harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui program-program yang mampu meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ekonomi rakyat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan," tegas doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia tersebut.

Investor Kini Pantau Jejak Karbon, Bukan Cuma Laba

Perubahan paradigma dunia usaha menjadi pendorong utama transformasi ini. Eddy menjelaskan, keputusan investasi saat ini tidak lagi hanya berdasarkan indikator keuangan. Kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi pertimbangan krusial bagi investor global.

"Hari ini investor tidak hanya melihat besarnya earning per share, tetapi juga bagaimana perusahaan mengelola carbon footprint-nya. Kinerja lingkungan kini menjadi faktor yang memengaruhi nilai perusahaan, daya saing, bahkan keputusan investasi," jelasnya.

Isu perubahan iklim, efisiensi energi, transisi menuju energi bersih, hingga pengelolaan limbah kini menjadi indikator yang menentukan masa depan perusahaan. Oleh karena itu, implementasi TJSL harus terintegrasi dengan strategi ESG perusahaan. Dengan begitu, program yang dijalankan mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus dampak sosial yang berkelanjutan.

Program TJSL adalah Investasi Jangka Panjang

Eddy menilai, program TJSL yang dijalankan dengan serius akan memperkuat reputasi perusahaan. Hal ini pada akhirnya meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga keberlanjutan bisnis di masa depan.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan TJSL & CSR Award BUMN Track 2026 yang menjadi ruang pembelajaran bagi lahirnya praktik terbaik tanggung jawab sosial di lingkungan BUMN. Ke depan, ukuran keberhasilan perusahaan negara harus mencakup tiga dimensi sekaligus.

"Keberhasilan BUMN harus diukur melalui tiga dimensi sekaligus, yaitu kinerja ekonomi yang sehat, manfaat sosial yang nyata, dan kualitas lingkungan yang terus terjaga. Ketiga aspek tersebut merupakan fondasi utama bagi BUMN untuk terus tumbuh secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara," pungkas Eddy.

Follow sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks