SIDRAP — Perjalanan Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino dimulai dari sebuah kelas pelatihan tari sederhana bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 2013. Didirikan oleh Miftahul Jannah, S.Sn., M.Pd., dan Henra Setiawan, S.Pd., M.Pd., sanggar ini tumbuh menjadi ruang pembinaan yang memadukan seni, pendidikan karakter, dan ekonomi kreatif.
Kedua pendiri yang berprofesi sebagai seniman dan ASN ini menanamkan nilai kedisiplinan, kerja sama, keberanian, serta tanggung jawab dalam setiap sesi latihan. Pendekatan tersebut terbukti melahirkan generasi muda yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Tonggak Prestasi: Dari FLS2N ke Istana Negara
Pada 2015, peserta didik binaan sanggar meraih juara tari kreasi dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) dan dipercaya mewakili Provinsi Sulawesi Selatan. Prestasi ini menjadi fondasi bagi kiprah sanggar di tahun-tahun berikutnya.
Setahun kemudian, sanggar mengikuti ajang HTD UNNES di Kota Semarang dan mendapat kesempatan menampilkan karya tari di Istana Negara. Pada tahun yang sama, Pajoge Andino mewakili Kabupaten Sidenreng Rappang dalam Malay Culture Festival di Singapura, pengalaman pertama mereka di pentas internasional.
Ekspansi ke Kamboja dan Karya Monumental I La Galigo
Kiprah internasional berlanjut pada 2018 melalui keikutsertaan dalam Rider Festival di Kamboja. Di tahun yang sama, Miftahul Jannah dan Henra Setiawan dipercaya menjadi bagian dari penari I La Galigo, sebuah karya monumental dalam khazanah budaya Sulawesi Selatan.
Pengalaman tersebut memperluas wawasan sanggar dan memperkuat komitmen menjadikan seni sebagai jembatan budaya antardaerah dan antarbangsa. Pada 2019, giliran para penari muda yang tampil di Festival Panji Surabaya dan Festival Tari Anak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Dari Pentas ke Industri: Butik Baju Bodo dan Sewa Kostum
Seiring perkembangan, sanggar tidak hanya berfokus pada pelatihan dan pertunjukan. Mereka mengembangkan usaha penyewaan kostum tari untuk mendukung kebutuhan pementasan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis seni.
Pada 2020, Miftahul Jannah membuka butik yang menyediakan baju bodo, gaun, dan jas tutup. Butik ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan busana tradisional Sulawesi Selatan agar tetap digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, tanpa kehilangan nilai filosofisnya.
Membuka Lapangan Kerja bagi Generasi Muda
Yayasan ini berkomitmen membuka peluang kerja melalui berbagai layanan pengembangan keterampilan. Kelas tari tersedia untuk jenjang TK hingga mahasiswa, ditambah kelas olah tubuh dan kelas modeling untuk membangun kepercayaan diri.
Layanan lain mencakup wedding organizer, event organizer, serta jasa penyewaan baju dan kostum termasuk pakaian adat tradisional. Berbagai bidang ini menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi, memperoleh pengalaman kerja, dan membangun kemandirian di industri kreatif.
Dukungan Keluarga di Balik Perjuangan Seni
Miftahul Jannah menjabat sebagai Direktur Yayasan sekaligus dosen seni berstatus ASN pada Program Studi PGSD Universitas Negeri Makassar (UNM). Sementara suaminya, Henra Setiawan, merupakan guru seni di UPTD SMP Negeri 1 Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap.
Latar belakang keduanya di dunia pendidikan dan seni menjadi kekuatan utama menjaga keberlanjutan perjuangan kebudayaan ini. Selama lebih dari satu dekade, perjalanan sanggar tidak hanya diukur dari jumlah panggung atau festival, tetapi dari setiap latihan dan proses pembentukan karakter yang berlangsung di dalamnya.