JENEPONTO — Roda ekonomi warga pesisir di Jeneponto selama ini banyak bertumpu pada hasil tambak garam. Namun, komoditas tersebut masih kerap dijual dalam bentuk mentah tanpa pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai yang diterima petani belum sebanding dengan potensi sumber daya yang ada.
Pemprov Sulsel menilai persoalan itu harus diurai dari hulu. Salah satu cara yang tengah didorong adalah penerapan teknologi membran dan geomembran pada lahan tambak. Teknologi ini diyakini mampu memperbaiki kualitas kristal garam sekaligus meningkatkan produktivitas petani.
Elektrifikasi Tambak Jadi Pintu Masuk Modernisasi
Program elektrifikasi bagi petani garam di Pallengu menjadi salah satu perhatian utama dalam peninjauan tersebut. Kehadiran aliran listrik di area tambak dinilai krusial untuk menggerakkan pompa dan peralatan produksi lainnya yang selama ini dijalankan secara manual.
Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi mengatakan potensi garam di Jeneponto masih sangat besar, tetapi pengelolaannya perlu pendekatan yang lebih modern. Menurutnya, pemanfaatan teknologi adalah kunci agar hasil produksi memiliki daya saing.
Mengapa Garam Mentah Harus Ditinggalkan?
Ketergantungan pada penjualan garam mentah membuat posisi tawar petani lemah di pasar. Harga jualnya fluktuatif dan tidak pernah menyentuh angka ideal, sementara biaya produksi terus berjalan.
Dengan pengolahan pascapanen yang baik, garam rakyat bisa diserap sektor industri yang membutuhkan standar kualitas tertentu. Rantai produksi yang selama ini putus di tingkat petani diharapkan tersambung langsung ke kebutuhan pabrik, sehingga nilai tambahnya dinikmati masyarakat pesisir.
Target: Garam Jeneponto Jadi Penopang Ekonomi Sulsel
Jeneponto selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah potensial pengembangan garam rakyat di Sulawesi Selatan. Dorongan penguatan industri ini bukan tanpa alasan—komoditas lokal diminta berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi soal luas lahan, melainkan bagaimana memastikan teknologi, sarana produksi, dan akses pasar benar-benar sampai ke tangan petani. Jika rantai itu terbentuk, garam Jeneponto berpeluang naik kelas dari sekadar hasil tambak menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru Sulawesi Selatan.