Pencarian

SILO Akuisisi 14 Perusahaan Properti Rumah Sakit Rp6,91 Triliun, Utang Bank Diprediksi Melonjak

Selasa, 18 Agustus 2026 • 08:42:01 WIB
SILO Akuisisi 14 Perusahaan Properti Rumah Sakit Rp6,91 Triliun, Utang Bank Diprediksi Melonjak
SILO menuntaskan akuisisi 14 perusahaan properti rumah sakit senilai Rp6,91 triliun melalui skema dua tahap.

SULAWESI SELATAN — Transaksi ini merupakan salah satu aksi korporasi terbesar di sektor kesehatan tahun ini. SILO menilai aset properti tersebut mencapai Rp9 triliun, namun setelah memperhitungkan penyesuaian aset dan liabilitas bersih serta komitmen belanja modal, nilai transaksi yang diperhitungkan menjadi sekitar minus Rp2,09 triliun.

Skema Dua Tahap dan Sumber Pendanaan Akuisisi

Proses pengambilalihan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (Conditional Share Purchase Agreement/CSPA), yang kemudian dilanjutkan dengan Perjanjian Opsi Put (Put Option Agreement/POA). Kedua perjanjian tersebut telah diteken pada 1 April 2026.

Untuk membiayai akuisisi ini, SILO akan menggunakan fasilitas pinjaman perbankan. Berdasarkan proforma per 31 Maret 2026, transaksi ini akan meningkatkan utang bank jangka panjang perseroan secara material, seiring dengan bertambahnya aset properti yang dikelola langsung.

IHSG Ditutup Menguat 1,59%, Seluruh Sektor Hijau

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (14/8) dengan penguatan 1,59% ke level 6.401,89. Seluruh 11 sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir di zona hijau, dengan sektor Healthcare memimpin penguatan sebesar 3,09%.

Sejumlah saham mencatatkan kenaikan signifikan. BYAN melonjak 20%, MPRO menguat 17,92%, dan SRAJ bertambah 15,38%. Di sisi lain, BREN terkoreksi 2,46% dan TPIA turun 2,43%.

Penguatan IHSG terjadi di tengah aksi jual investor asing. Di pasar reguler, asing membukukan net sell Rp396,50 miliar, sedangkan secara keseluruhan pasar tercatat net sell Rp1,03 triliun.

Katalis Bursa Komoditas dan Target Penjualan IKBI

Sentimen positif datang dari dalam negeri. Pemerintah menargetkan regulasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis rampung pada 17 September, dengan bursa tersebut ditargetkan beroperasi pada 1 Januari 2027. Kehadiran bursa ini diharapkan memperkuat posisi tawar emiten tambang domestik. Sentimen ini turut mengangkat ETF EIDO yang naik 0,96% dan indeks MSCI Indonesia yang menguat 0,21%.

Dari sektor korporasi, PT Kabelindo Murni Tbk (IKBI) memasang target penjualan USD266 juta pada 2026, meningkat 15,65% dibandingkan realisasi 2025 sebesar USD230 juta. Namun, hingga semester I 2026, IKBI baru membukukan penjualan USD75,43 juta atau sekitar 28,36% dari target tahunan. Perseroan perlu membukukan penjualan sekitar USD190,57 juta pada semester II untuk mencapai target.

BPII Bagikan Dividen Interim Rp3,54 per Saham

PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (BPII) menetapkan pembagian dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp3,54 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp34,98 miliar untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, dengan dividend payout ratio 81,68% dari laba bersih semester I sebesar Rp42,83 miliar.

Sepanjang semester I 2026, BPII mencatat pendapatan jasa asuransi sebesar Rp936,34 miliar. Cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 26 Agustus 2026, sedangkan pembayaran dijadwalkan pada 11 September 2026. Dengan harga saham BPII di Rp464, dividen interim ini memberikan yield sekitar 0,76%.

Follow sulsel24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks