MAKASSAR — Arus investasi asing ke Kota Makassar menunjukkan tren penguatan dengan masuknya modal dari lima negara besar. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengungkapkan hal itu saat menjadi pembicara di hadapan pengurus APINDO se-Indonesia, kemarin.
Malaysia, Singapura, Hong Kong, China, dan Jepang tercatat sebagai negara dengan nilai investasi tertinggi di ibu kota Sulawesi Selatan tersebut. Pengakuan ini disampaikan Appi dalam forum bertajuk "Ketahanan Nasional: Pengusaha Indonesia di Tengah Fragmentasi Global".
Bukan Andalkan SDA, Makassar Jual Dua Gerbang Logistik Internasional
Berbeda dengan daerah lain di Sulsel yang kaya sumber daya alam, Makassar justru mengandalkan posisinya sebagai simpul logistik. Appi menegaskan kota ini menjadi satu-satunya di Sulawesi Selatan yang memiliki dua alur penghubung ekonomi sekaligus: Pelabuhan Internasional dan Bandara Internasional.
"Mampu menghubungkan proses barang dan jasa langsung ke tujuan ekspor dan impor," ujarnya di depan para pengusaha.
Keunggulan itu diperkuat dengan posisi Makassar yang berada pada jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Jalur ini menghubungkan aktivitas ekonomi antara Australia, Asia, hingga benua lainnya, sekaligus menjadikan Makassar hub pergerakan barang, jasa, dan tenaga kerja di kawasan Indonesia Timur.
Realisasi Investasi Rebound Usai Koreksi 2024
Setelah sempat terkoreksi pada 2024, realisasi investasi di Makassar kembali menunjukkan pertumbuhan pada 2025. Appi menyebut terjadi peningkatan pada investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) dan investasi dalam negeri secara bersamaan.
Ia merangkum tiga alasan utama mengapa investor harus melirik Makassar. Pertama, lokasi geografis yang strategis. Kedua, ekonomi yang terus tumbuh dan berkembang. Ketiga, kota yang ramah investasi dengan sistem pemerintahan berbasis Smart City.
"Kenapa Makassar? Kami memiliki beberapa alasan, tetapi saya menampilkan tiga alasan utama," jelas Appi.
KIMA Hampir Penuh, Stadion Untia dan Spermonde Jadi Proyek Baru
Pemkot Makassar kini menyiapkan sejumlah proyek strategis untuk memperluas ruang investasi. Di sektor industri, Kawasan Industri Makassar (KIMA) mencatat tingkat okupansi lebih dari 90 persen. Kawasan ini menjadi pusat hilirisasi komoditas dari berbagai daerah, termasuk kopi dan hasil perikanan, sekaligus penopang aktivitas ekspor-impor.
Sementara di sektor pariwisata, pemerintah kota tengah mendorong pengembangan kawasan sports tourism di Untia. Proyek ini diawali dengan pembangunan stadion sepak bola milik pemerintah kota.
Potensi besar lainnya ada pada gugusan Kepulauan Spermonde. Kawasan ini dinilai layak dikembangkan sebagai destinasi wisata maritim untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan di Makassar.
Jaminan Kemudahan dan Ekosistem Riset bagi Investor
Appi memastikan Pemkot Makassar berkomitmen memberikan kemudahan dan hospitality bagi para investor. Ia juga menyoroti dukungan ekosistem riset dari perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin sebagai penguat investasi.
Potensi perikanan, pertanian, dan industri pengolahan makanan disebut sebagai sektor yang saling melengkapi.
"Ini memberikan gambaran bahwa Kota Makassar, kami siap untuk menerima investasi bersama-sama dengan supporting infrastruktur yang dimiliki oleh kota ini," tegasnya.