MAKASSAR — Sebuah stan kecil di sudut mal justru menjadi magnet bagi pengunjung Trans Studio Mall Makassar. Bukan gawai atau pakaian branded, melainkan kain tenun dan batik khas Kabupaten Soppeng yang berhasil menghentikan langkah ratusan pengunjung selama pameran berlangsung.
Pameran Kriya dan Wastra dalam rangka Syukuran 46 Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) itu menjadi ajang bagi Dekranasda Soppeng untuk memperkenalkan identitas budayanya. Produk yang dipamerkan tidak hanya tenun tradisional, tetapi juga batik pewarna alam dengan aksen aksara Lontara serta busana modern yang memadukan motif Jijiri dan Lagosi.
Motif Kalong: Daya Tarik yang Tak Berteriak
Pengurus Dekranasda Soppeng, Nurlela, mengaku banyak pengunjung yang datang dari luar daerah dan bahkan pejabat dari DKI Jakarta ikut membawa pulang karya perajin Soppeng. "Banyak tamu dari luar daerah sengaja membeli cendera mata khas Sulawesi Selatan," katanya kepada wartawan di sela-sela acara.
Motif Kalong, lanjut Nurlela, memiliki daya tarik tersendiri. "Tidak mencolok, tidak berisik. Tetapi semakin lama dipandang, semakin terasa kelasnya," ujarnya. Ia juga menjelaskan filosofi motif yang terpajang di etalase kepada setiap pengunjung yang bertanya.
Fashion Show: Wastra Tradisional Tampil Modern
Dekranasda Soppeng tidak hanya menjajakan produk di atas meja. Mereka membawa kain tradisional ke atas panggung dalam sebuah fashion show. Wastra bermotif Kalong dipadukan dengan motif Lagosi, dirancang oleh desainer Mijel Soppeng, dan diperagakan langsung oleh anggota Dekranasda Soppeng.
Koleksi itu merupakan karya Nurlela dari Cantika Sabbena Soppeng. "Kain tradisional ternyata tidak harus terlihat tua. Ia bisa modern tanpa kehilangan jati dirinya," ucapnya.
Selendang Lagosi Caddi Kalong untuk Ketua Umum TP PKK Pusat
Puncak acara terjadi saat penutupan pameran. Selendang bermotif Lagosi Caddi Kalong melingkar di bahu Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Tito Karnavian. Bagi para perajin Soppeng, momen itu menjadi pengakuan bahwa karya dari daerah kecil bisa berdiri sejajar dengan karya dari mana pun.
Nurlela menambahkan, pameran semacam ini lebih tepat digelar di mal. "Budaya memang jangan hanya dipamerkan kepada mereka yang memang sudah mencintainya. Budaya harus dibawa ke tengah keramaian," pungkasnya.