LUWU — Selama ini, sebagian besar petani rumput laut di pesisir Luwu hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan baku kering. Nilai tambah yang seharusnya bisa diraih dari pengolahan justru jatuh ke tangan tengkulak atau pabrik di luar daerah. Tim dosen Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) mencoba memutus rantai itu dengan menghadirkan pelatihan terpadu di Desa Lamasi Pantai, Senin (6/1/2026).
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang bermitra dengan Pokdakan Sipakamase ini mengusung tema Peningkatan Ekonomi Petani Rumput Laut melalui Diversifikasi Produk Olahan dan Penerapan Teknologi. Ketua pelaksana kegiatan, Akramunisa, mengatakan pendampingan dirancang agar petani mampu mengelola potensi besar yang ada dengan pendekatan modern.
"Kami ingin petani rumput laut naik kelas. Potensi yang besar harus dikelola dengan pendekatan yang lebih modern, mulai dari budidaya, penerapan teknologi, diversifikasi produk, hingga pemasaran," ujar Akramunisa dalam keterangan yang diterima Tekape.co.
Teknologi Baru untuk Pantau Kualitas Air
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah penggunaan Fluval Sea Hydrometer Salt Water. Alat ini membantu petani mengukur kadar salinitas air secara lebih presisi. Selama ini, banyak petani hanya mengandalkan perkiraan visual atau pengalaman turun-temurun yang kerap meleset saat cuaca ekstrem.
Dr. Masluki, S.P., M.P., turut memberikan materi teknik budidaya serta cara menangani hama dan penyakit yang kerap menyerang rumput laut. Materi ini dianggap krusial mengingat produktivitas petani di Lamasi Pantai sempat menurun akibat serangan penyakit ice-ice yang sulit dikendalikan.
Dari Bahan Mentah Jadi Camilan hingga Kosmetik
Di sektor hilir, Akramunisa bersama Sunarti Cambaba melatih petani membuat aneka produk olahan berbasis rumput laut. Bukan hanya bakso atau kerupuk, peserta juga diajari mengolah rumput laut menjadi dodol, sabun cair, hingga body scrub. Langkah ini diharapkan bisa memperpanjang masa simpan produk sekaligus menaikkan harga jual.
"Dulu kami jual rumput laut basah Rp 5.000 per kilogram. Kalau diolah jadi kerupuk, satu kilogram bisa jadi Rp 50.000 lebih," kata salah satu anggota Pokdakan Sipakamase yang mengikuti pelatihan.
Pemasaran Digital dan Kemasan yang Menarik
Resky Yusrini, S.Pd., M.Pd., memandu sesi pemasaran digital, desain kemasan, dan strategi promosi. Petani diajari membuat akun media sosial khusus produk, teknik fotografi produk sederhana, hingga cara mengemas rumput laut olahan agar layak jual di marketplace.
Kegiatan ini juga melibatkan dosen pendamping Rahma Hi Manrulu, Iriansa, dan Jumarniati, serta tiga mahasiswa UNCP. Tim PKM menyampaikan apresiasi kepada Pokdakan Sipakamase, Pemerintah Desa Lamasi Pantai, pimpinan UNCP, serta Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek yang mendukung pendanaan program.
Lewat program ini, UNCP berharap inovasi yang diperkenalkan bisa memperkuat posisi rumput laut sebagai komoditas unggulan masyarakat pesisir di Kabupaten Luwu. Bukan sekadar panen, tapi juga naik kelas.