MAKASSAR — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengingatkan bahwa jaminan keamanan pangan menjadi prasyarat utama keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digodok pemerintah. Kepala BPOM, Prof. Dr. Taruna Ikrar, menekankan bahwa pangan bergizi tanpa jaminan keamanan tidak akan memberikan manfaat optimal bagi anak-anak sekolah.
“Keamanan pangan adalah prasyarat utama keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis. Pangan bergizi hanya akan memberikan manfaat optimal apabila dipastikan aman dikonsumsi,” ujar Taruna Ikrar dalam keterangan yang diterima di Makassar, baru-baru ini.
Kerugian Ekonomi Akibat Pangan Tak Aman Capai Rp 226 Triliun
Taruna membeberkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut satu dari sepuluh orang di dunia sakit akibat pangan tidak aman, dengan 420 ribu kematian tiap tahun. Di Indonesia, diperkirakan terjadi 10 hingga 22 juta kasus diare akibat pangan tak aman setiap tahun.
Beban ekonomi dari kasus-kasus tersebut mencapai Rp 64,8 triliun hingga Rp 226,3 triliun. Angka ini setara dengan belasan kali lipat anggaran beberapa program prioritas nasional.
Kolaborasi Tiga Kementerian untuk Ekosistem Pangan Sekolah
Untuk membangun budaya pangan aman sejak dini, BPOM memperkuat sinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang dipimpin Abdul Mu’ti serta Kementerian Kebudayaan yang dipimpin Fadli Zon. Nota kesepahaman telah ditandatangani untuk memberdayakan sumber daya manusia di bidang obat dan makanan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Kementerian Kebudayaan akan memperkuat literasi keamanan pangan melalui pendekatan kearifan lokal. Sementara BPOM meluncurkan Gerakan 1.000 Kader untuk Pangan Aman dengan Bahasa Daerah, menyampaikan pesan Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) dalam lebih dari 700 bahasa daerah.
Baru 21,8 Persen Sekolah Terintervensi
Sejak 2011, BPOM menjalankan Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang direvitalisasi pada 2024 menjadi Pembudayaan Keamanan Pangan di Sekolah. Hingga akhir 2025, baru 60.234 sekolah atau 21,8 persen dari total 276.866 sekolah dan madrasah yang terintervensi.
Angka ini menunjukkan masih luasnya wilayah yang perlu dijangkau. Taruna menegaskan, sekolah adalah tempat paling strategis menanamkan budaya keamanan pangan karena anak-anak belajar memilih makanan dan membentuk kebiasaan hidup sehat di sana.
Obesitas Anak dan Diabetes Jadi Alarm Tambahan
Data BPOM menunjukkan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada anak usia 5–12 tahun mencapai 19,7 persen. Kasus diabetes pada anak juga menunjukkan tren meningkat yang perlu diwaspadai.
“Pangan aman bukan sekadar kebutuhan hari ini, tetapi investasi untuk masa depan bangsa. Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan dengan generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan terlindungi dari risiko pangan yang tidak aman,” pungkas Taruna.