SOPPENG — Gaza dan Soppeng terpisah ribuan kilometer, berbeda bahasa dan budaya. Namun, di sudut Warkop Makmur, jarak itu seolah lenyap. Seorang ulama yang telah menghabiskan tujuh tahun di Indonesia itu duduk berbincang akrab tanpa protokoler, hanya dengan secangkir kopi dan obrolan tentang kemanusiaan.
Bukan Sekadar Bantuan Uang
Syekh Yahia Taha, yang merupakan lulusan sarjana dan magister Universitas Lampung, menyampaikan bahwa situasi di Palestina saat ini sudah sangat kompleks. Menurutnya, kondisi yang dihadapi masyarakat Palestina sudah berada pada titik di mana bantuan uang saja tidak selalu menjadi solusi utama.
Pernyataan itu menggambarkan betapa beratnya tekanan yang dirasakan warga di kampung halamannya. Alih-alih membawa kemarahan, ia justru menyampaikan pesan tentang pentingnya dialog dan pendidikan.
Edukasi Lebih Penting dari Kekerasan
Ketika diskusi menyentuh perbedaan pandangan terkait konflik Palestina-Israel, Syekh Yahia Taha mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pemahaman yang benar. "Yang paling penting adalah memberikan pemahaman," ujarnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Ia menegaskan bahwa edukasi jauh lebih penting daripada tindakan yang mengandung kekerasan. Pesan itu menjadi inti dari safari dakwahnya di Sulawesi Selatan, di mana ia berkeliling dari masjid ke masjid untuk bertemu masyarakat.
Syal Simbol Harapan untuk Pemulihan
Momen paling emosional terjadi menjelang pertemuan berakhir. Di hadapan Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang, Syekh Yahia Taha menyerahkan sebuah syal bertuliskan "Save Palestina, Save Al Aqsa." Benda sederhana itu bukan sekadar suvenir, melainkan simbol persaudaraan dari seseorang yang datang langsung dari wilayah konflik.
Suasana semakin haru ketika Syekh Yahia Taha mendoakan Mahmud Cambang yang sedang menjalani pemulihan pascakecelakaan. "Semoga cepat sembuh. Mudah-mudahan ketika kita bertemu lagi nanti, Palestina sudah merdeka," tuturnya.
Kalimat itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun, bagi mereka yang hadir, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai persoalan dunia, harapan masih terus hidup. Dan sore itu, di sebuah warung kopi sederhana di Kabupaten Soppeng, harapan dari Gaza menemukan tempat untuk didengarkan.