SULAWESI SELATAN — Direktur Utama PT Pos Indonesia, Daud Joseph, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah menjalankan sejumlah mandat strategis dari Danantara. Salah satunya adalah konsolidasi BUMN sektor logistik yang dimulai dengan penggabungan tujuh perusahaan.
"Kami perkirakan tanggal 1 Juli sudah mulai beroperasi satu perusahaan surviving entity untuk meleburkan tujuh perusahaan yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri," ujar Joseph usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (22/6) di Kompleks Parlemen, Senayan.
Adapun tujuh entitas yang bergabung di tahap awal ini mencakup perusahaan berbasis logistik darat seperti Pos Logistics, Krakatau Jasa Logistik, hingga KPL yang merupakan anak usaha Dana Reksa. Setelah tahap pertama rampung, Pos Indonesia berencana melanjutkan proses penggabungan terhadap dua perusahaan BUMN logistik lain yang masih dalam tahap kajian dan menunggu persetujuan Danantara.
Modal Jaringan 5.597 Titik: Bukan Sekadar Kurir Kota Besar
Di usianya yang ke-280 tahun, Pos Indonesia mengklaim memiliki keunggulan yang tak dimiliki pemain logistik lain. Jaringan dan infrastruktur Pos telah tersebar hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), bukan hanya kota-kota besar.
"Oleh karena itu pertama, di dunia digital ini kami akan berkolaborasi dengan para pemain logistik dan kurir baik itu yang berbasis lokal maupun pemain internasional yang turun ke Indonesia," ungkap Joseph.
Saat ini, Pos Indonesia tercatat memiliki 5.597 titik layanan yang tersebar di seluruh Nusantara. Jaringan inilah yang menjadi modal utama untuk bersaing dengan perusahaan kurir swasta yang selama ini fokus di Pulau Jawa dan kota metropolitan.
Digitalisasi dan Aplikasi: Pos Aja hingga GLID
Menghadapi era digital, Pos Indonesia tidak hanya mengandalkan jaringan fisik. Perusahaan tengah mengembangkan sejumlah aplikasi untuk memudahkan pelanggan, di antaranya Pos Aja untuk pengiriman paket, Pospay sebagai platform keuangan digital untuk pembayaran tagihan dan penggajian, serta GLID yang berfungsi mengintegrasikan seluruh perusahaan logistik.
"Jadi di era digital ini pesan dari anggota Dewan tadi adalah PT Pos Indonesia bukan hanya sekedar bertahan, tetapi malah menjadi yang unggul di antara pemain-pemain logistik yang ada di Indonesia," tegasnya.
Target Jadi Salah Satu dari Lima Anchor Logistik Nasional
Dalam skema hub and spoke yang dirancang pemerintah melalui Peraturan Menteri Nomor 8 Tahun 2025, Pos Indonesia telah terdaftar sebagai salah satu dari lima perusahaan berstatus anchor atau jangkar dari total 700 pelaku usaha kurir dan logistik di Indonesia.
"Nanti semuanya akan bermitra, berkolaborasi," ujar Joseph. Perusahaan anchor akan bekerja sama dengan network-network yang lebih kecil untuk menciptakan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi.
Ke depan, Pos Indonesia menargetkan seluruh order logistik di Indonesia bisa tertuju pada satu BUMN yang mampu melayani secara keseluruhan. Saat ini, kerja sama dengan marketplace sudah berjalan—setiap hari sekitar 60.000 paket dari e-commerce dikirim melalui jasa Pos Indonesia.