SULAWESI SELATAN — Ghana memang tak lagi diperkuat bintang seperti Asamoah Gyan atau Kevin-Prince Boateng. Tapi semangat yang tersisa dari generasi emas 2010 masih terasa, terutama setelah kemenangan 1-0 atas Panama di Toronto akhir pekan lalu.
Kenangan 2010 yang Tak Pernah Pudar
Semenyo baru berusia 10 tahun saat Ghana nyaris menjadi tim Afrika pertama di semifinal Piala Dunia. Momen itu berakhir dramatis setelah tangan Luis Suárez menghalau bola di garis gawang pada perpanjangan waktu perempat final melawan Uruguay.
"Saya ingat berada di rumah paman, kami berteriak setelah handball itu, mengira kami akan lolos," ujar Semenyo dalam wawancara bulan lalu. Menonton Ghana di Piala Dunia adalah momen spesial baginya, dengan seluruh keluarga berkumpul di satu rumah untuk merayakan dan berteriak bersama.
Warisan Gyan dan Generasi Baru
Asamoah Gyan, yang gagal mengeksekusi penalti dalam adu tendangan 12 langkah melawan Uruguay 16 tahun lalu, masih menjadi bagian penting skuad. Pemain berusia 40 tahun itu memimpin sesi jama tradisional sebelum laga melawan Panama dan videonya merayakan kemenangan bersama pemain sayap Abdul Fatawu di ruang ganti menjadi viral.
Rekor Gyan sebagai pencetak gol termuda Ghana di Piala Dunia kini dipecahkan oleh Caleb Yirenkyi yang baru berusia 20 tahun. Golnya ke gawang Panama menjadi sinyal kebangkitan setelah kegagalan Ghana lolos ke Piala Afrika tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 2004.
Queiroz Hadapi Tantangan Berbeda
Pelatih Carlos Queiroz, yang baru menangani Ghana sebulan sebelum turnamen, tak bisa mengandalkan kekayaan bakat seperti era 2010. Dari 23 pemain yang dibawa ke Amerika Serikat, delapan di antaranya lahir di luar Ghana—hanya dua pada 2010.
Upaya membujuk Callum Hudson-Odoi (Nottingham Forest) dan Eddie Nketiah (Crystal Palace) untuk membela Ghana gagal. Sementara itu, bintang Tottenham Mohammed Kudus masih absen karena cedera otot serius sejak Januari.
Kunci Laga: Disiplin dan Semangat Juang
Jonathan Mensah, bek tengah yang ikut dalam skuad 2010, menekankan pentingnya momentum. "Kemenangan pertama sangat penting bagi kami saat itu. Sekarang kami butuh performa bagus melawan tim Inggris yang kuat," katanya.
Mensah menambahkan bahwa skuad saat ini masih muda dan berbakat, namun tak boleh dibebani ekspektasi berlebihan. "Mereka perlu dibiarkan tumbuh. Saya yakin Ghana bisa menyulitkan Inggris, tapi harus bekerja keras karena kami tahu betapa sulitnya pertandingan nanti."
Pertandingan melawan Inggris akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Semenyo dan kawan-kawan untuk membuktikan bahwa warisan 2010 masih hidup, meski jalan menuju kejayaan serupa masih panjang.