GOWA — Angka prevalensi stunting di Kabupaten Gowa terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Tak sekadar mengandalkan data di atas kertas, Ketua TP PKK Gowa Andi Tenri Indah memilih pendekatan langsung dengan turun ke lapangan, menyasar titik-titik kerentanan gizi yang masih tersebar di sejumlah kecamatan.
Bersama Wakil Bupati Gowa yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting, Darmawansyah Muin, Andi Tenri Indah menyambangi warga di Kecamatan Bajeng. Bantuan berupa telur, susu, dan vitamin diserahkan langsung kepada sekitar 200 anak dan ibu hamil yang masuk kategori rentan stunting.
Bukan Sekadar Seremoni, Ada Dialog Langsung dengan Warga
Kehadiran Andi Tenri Indah di tengah masyarakat disambut antusias. Ia tak hanya menyerahkan paket bantuan, tetapi juga berdialog dengan para ibu mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi harian. “Kami ingin memastikan anak-anak yang rentan stunting mendapatkan perhatian dan asupan gizi yang cukup. Karena itu kami turun langsung memberikan bantuan telur, susu, dan kebutuhan lainnya,” ujar Indah dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Pendekatan personal ini dinilai efektif untuk menjangkau keluarga yang mungkin tidak terdata secara optimal oleh sistem. Dengan berdialog langsung, pemerintah bisa menggali kendala riil di lapangan, mulai dari akses pangan hingga rendahnya literasi gizi.
Daun Kelor hingga Vitamin: Strategi Gizi dari Pekarangan
Selain bantuan langsung, TP PKK Gowa juga menggencarkan edukasi pola hidup sehat. Andi Tenri Indah mencontohkan pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti daun kelor. “Kadang bahan bergizi ada di sekitar kita. Misalnya daun kelor yang bisa diolah menjadi sayur untuk anak-anak. Ditambah asupan telur dan vitamin, tentu akan sangat membantu tumbuh kembang mereka,” tutur legislator Gerindra Sulsel itu.
Langkah ini menjadi penting karena ketergantungan pada bantuan semata tidak akan berkelanjutan. Dengan mendorong kemandirian pangan keluarga, pemerintah berharap pola gizi seimbang bisa menjadi kebiasaan, bukan sekadar program musiman.
Target Bergilir: Setelah Bajeng, Pallangga Jadi Sasaran Berikutnya
Program bantuan gizi ini tidak berhenti di Bajeng. Andi Tenri Indah memastikan kegiatan serupa akan berlanjut ke Kecamatan Pallangga dan sejumlah wilayah lain di Kabupaten Gowa. “Kami juga berupaya menyiapkan vitamin untuk mereka. Setelah Bajeng, kegiatan ini akan berlanjut di Pallangga dan kecamatan lainnya,” terang Indah.
Pemkab Gowa sendiri sebelumnya mencatatkan diri sebagai daerah dengan capaian penurunan stunting terbaik di Sulawesi Selatan. Program lintas sektor yang melibatkan TP PKK, Dinas Kesehatan, dan kecamatan menjadi kunci keberhasilan tersebut. Namun, tantangan tetap ada, terutama di wilayah pinggiran yang akses layanan kesehatannya masih terbatas.
Mengapa Angka Stunting di Gowa Terus Jadi Sorotan?
Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak, melainkan indikator keterlambatan perkembangan otak yang berdampak pada produktivitas jangka panjang. Di Sulsel, Gowa menjadi salah satu barometer keberhasilan intervensi gizi. Jika tren positif ini bisa dijaga, bukan tidak mungkin daerah lain akan menjadikan Gowa sebagai model penanganan stunting berbasis komunitas.
Pertanyaan kritis yang kerap muncul adalah sejauh mana keberlanjutan program ini jika terjadi pergantian kepemimpinan atau pemangkasan anggaran. Untuk itu, edukasi dan pemanfaatan sumber daya lokal seperti daun kelor menjadi strategi jangka panjang yang tidak tergantung pada proyek tahunan pemerintah.