BONE — Sebanyak 46 ekor sapi kurban yang disalurkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone pada Idul Adha tahun ini memiliki sasaran yang berbeda dari biasanya. Penerima manfaat justru menyasar kelompok pekerja informal dan lembaga pendidikan keagamaan, bukan semata-mata aparatur sipil negara atau pejabat daerah.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Bone, Andi Baso, mengonfirmasi bahwa distribusi hewan kurban tahun ini sengaja diarahkan ke segmen yang jarang tersentuh. "Penerima terdiri dari cleaning service, satpam, dan pesantren. Ini bentuk perhatian kepada mereka yang sehari-hari bekerja di lingkungan pemkab namun kerap luput dari program serupa," ujarnya.
Mengapa Prioritas Bergeser ke Pekerja Informal dan Santri?
Selama ini, distribusi hewan kurban dari instansi pemerintah kerap terpusat pada pegawai struktural atau masyarakat umum di sekitar kantor. Pemkab Bone mencoba memecah pola tersebut dengan memetakan penerima berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.
Andi Baso menjelaskan bahwa tenaga cleaning service dan satpam dipilih karena kontribusi mereka yang langsung terhadap operasional perkantoran. Sementara itu, pesantren dianggap sebagai institusi yang mampu mendistribusikan daging kurban secara merata kepada santri dan warga sekitar.
Angka Pasti dan Rantai Distribusi
Total hewan kurban yang disiapkan Pemkab Bone mencapai 46 ekor sapi. Seluruh hewan tersebut telah melalui pemeriksaan kesehatan hewan (antemortem) oleh Dinas Peternakan setempat sebelum dipotong.
Proses pemotongan dilakukan secara terpusat di halaman kantor bupati pada hari raya. Setelah dikemas, daging kurban langsung didistribusikan ke titik-titik yang telah ditentukan dalam satu hari yang sama untuk menjaga kesegaran.
Apa Dampaknya bagi Penerima Manfaat?
Bagi tenaga cleaning service yang mayoritas berstatus pekerja harian lepas, daging kurban ini menjadi tambahan asupan protein yang signifikan. "Biasanya kami hanya dapat bagian jika ada lebih dari acara kantor. Tahun ini diundang khusus, rasanya dihargai," ujar salah seorang petugas kebersihan yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, pengurus pesantren di wilayah Watampone menyambut baik program ini. Mereka menilai distribusi yang menyasar pesantren membantu mencukupi kebutuhan gizi santri selama hari raya, terutama bagi pondok yang tidak memiliki sumber pendanaan tetap untuk pembelian hewan kurban.
Berapa Sapi yang Biasa Disalurkan Pemkab Bone?
Pemkab Bone rutin mengalokasikan anggaran untuk pengadaan hewan kurban setiap tahun melalui pos belanja tidak terduga atau sumbangan dari pejabat daerah. Tahun lalu, jumlah sapi yang disalurkan berada di kisaran 30–40 ekor. Kenaikan menjadi 46 ekor tahun ini menunjukkan adanya tambahan alokasi anggaran atau partisipasi dari pihak ketiga.
Apakah Program Ini Akan Berlanjut Tahun Depan?
Andi Baso menyatakan bahwa pola distribusi ini akan dievaluasi setelah pelaksanaan Idul Adha. "Kami lihat responsnya. Kalau efektif dan tepat sasaran, bukan tidak mungkin pola ini dijadikan standar tahun depan," katanya.
Pemkab Bone juga membuka kemungkinan untuk menambah jumlah hewan kurban jika anggaran daerah memungkinkan. Saat ini, prioritas utama adalah memastikan distribusi berjalan adil dan tidak tumpang tindih dengan program kurban dari instansi lain di wilayah yang sama.