SULAWESI SELATAN — Vatikan — Paus Leo XIV mengambil sikap paling tegas terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) melalui ensiklikal perdananya yang dirilis Senin (15/4). Dokumen sepanjang 42.300 kata (versi bahasa Inggris) ini tidak hanya menyoroti bahaya etis, tetapi juga dampak sosial-ekonomi nyata yang sudah di depan mata: PHK massal dan akumulasi kekayaan yang semakin timpang.
Apa yang Dikatakan Paus tentang AI?
Paus Leo XIV dengan tegas membedakan kemampuan AI dengan kecerdasan manusia. Ia menyebut sistem AI saat ini hanyalah mesin peniru yang unggul dalam kecepatan komputasi, bukan makhluk yang memiliki kesadaran.
"Sistem ini hanya meniru fungsi tertentu dari kecerdasan manusia. Dalam melakukannya, mereka sering melampaui kecepatan dan kapasitas komputasi manusia, menawarkan manfaat nyata di banyak bidang," tulis Paus.
Namun, ia menekankan kekurangan fundamental AI: "Kecerdasan buatan tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan suka atau duka, tidak dewasa melalui hubungan, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, kerja, persahabatan, atau tanggung jawab."
Paus juga menegaskan AI tidak memiliki hati nurani moral karena tidak bisa membedakan baik dan buruk, atau mempertanggungjawabkan konsekuensi dari keputusannya.
Ancaman PHK Massal dan Kesenjangan Ekonomi
Salah satu poin paling konkret dalam ensiklikal ini adalah peringatan tentang hilangnya pekerjaan secara sistemik. Paus Leo menolak argumen bahwa keuntungan dari AI bisa membenarkan pengangguran massal.
"Teknologi semacam ini — dan keuntungan apa pun yang menyertainya — tidak boleh digunakan untuk membenarkan hilangnya pekerjaan secara sistematis," tegasnya. Ia mendorong pemerintah untuk menyediakan pelatihan ulang (retraining) dan perlindungan ketenagakerjaan bagi pekerja yang terancam oleh otomatisasi.
Paus juga menyoroti konsentrasi kekayaan yang sudah terjadi di tangan segelintir orang. Menurutnya, pemerintah wajib memastikan teknologi ini tidak memperparah ketimpangan. "Sudah waktunya untuk menetapkan alat regulasi yang mampu menegakkan keadilan dan mengendalikan efek distorsi dari kekuatan teknologi," ujarnya.
Regulasi Senjata dan Perlindungan Anak
Dalam dokumen tersebut, Paus Leo menuntut agar semua keputusan terkait senjata tetap berada di tangan manusia, bukan AI. Ia memperingatkan bahwa mendelegasikan keputusan hidup-mati ke algoritma adalah langkah berbahaya yang harus dicegah.
Untuk generasi muda, ensiklikal ini menyerukan "aliansi pendidikan untuk era digital" yang mengajarkan anak muda berpikir kritis tentang AI. Regulasi juga harus melindungi mereka dari konten "kekerasan atau merendahkan" yang dihasilkan AI, termasuk eksploitasi seksual dan grooming.
Sikap Vatikan: Bukan Anti-AI
Meskipun kritis, Paus Leo tidak memposisikan AI sebagai musuh. Jika dikelola dengan hati-hati, ia percaya AI bisa "membuka cakrawala yang meluas ke segala arah." Vatikan sendiri sudah mulai mengadopsi teknologi ini. Pada Februari 2025, Tahta Suci bekerja sama dengan penyedia layanan bahasa Translated untuk menyediakan terjemahan langsung bertenaga AI bagi jemaat Misa Kudus.
Paus menyampaikan pernyataan ini bersama Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic — perusahaan AI di balik model Claude. Ini menandakan bahwa dialog antara pemimpin agama dan pelaku industri AI terus berlangsung, meskipun dengan nada peringatan yang semakin keras.