MAKASSAR — Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah Fauzan, warga Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Simbang, Maros, setelah proses penurunan yang menantang. Korban bersama empat pendaki lain tersambar petir saat berada di puncak Gunung Monrolo, Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, sekitar pukul 17.20 WITA.
Kepala Basarnas Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar mengungkapkan, para pendaki tetap mengambil gambar dokumentasi meski hujan deras mengguyur puncak. "Empat orang dinyatakan selamat, sementara satu orang meninggal dunia atas nama Fauzan," katanya, Senin.
Medan Terjal dan Cuaca Buruk Hambat Evakuasi
Informasi kejadian baru diterima Basarnas Makassar pukul 20.28 WITA. Tim langsung bergerak dan tiba di kaki gunung pukul 23.30 WITA. Sebanyak 22 personel dari Basarnas, Damkar Maros, BPBD Maros, SAR Unhas, Saukang Explore, TRC Teman Berlibur Indonesia, PMI Maros, dan warga setempat diterjunkan.
Pendakian malam dilakukan untuk evakuasi. Namun, kontur Gunung Monrolo yang terjal dan berbatu menjadi tantangan serius. "Ada beberapa titik yang mengharuskan tim menggunakan tali karena medan yang sangat curam. Kendala teknis ini membuat tim membutuhkan waktu ekstra," ucap Arif.
Korban Berhasil Diturunkan Setelah 12 Jam
Tim mencapai posisi korban di puncak pada pukul 05.50 WITA, Senin pagi. Guna mempercepat proses, tim gabungan kedua berjumlah 20 personel kembali dikerahkan pukul 08.00 WITA. Proses evakuasi berlangsung sekitar 3 jam 30 menit hingga jenazah tiba di kaki gunung pukul 09.20 WITA.
Jenazah Fauzan langsung dievakuasi ke Puskesmas Tompobulu menggunakan ambulans. Operasi SAR dinyatakan ditutup pada pukul 09.26 WITA. Seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke instansi masing-masing.
Gunung Monrolo, Destinasi Favorit dengan Risiko Tinggi
Gunung Monrolo dikenal sebagai salah satu tempat favorit pendaki di Maros. Dengan ketinggian 1.109 mdpl, gunung ini menyajikan pemandangan karst yang khas. Namun, medan batuan terjal dan cuaca yang cepat berubah menjadi ancaman, terutama saat musim pancaroba seperti saat ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi komunitas pendaki untuk selalu memantau prakiraan cuaca sebelum mendaki. Cuaca ekstrem di puncak gunung bisa datang tanpa peringatan, dan momen dokumentasi sering kali mengalihkan kewaspadaan terhadap bahaya alam.