SIDRAP — Varietas Inpari 43 ditanam di lahan tadah hujan seluas 20 hektare di Kecamatan Panca Rijang. Produktivitas awal lahan tersebut hanya 5 ton per hektare, lalu naik menjadi 13,1 ton per hektare.
Angka itu menjadikan Sidrap lokasi dengan capaian tertinggi dari sepuluh provinsi yang masuk data progres PM-AAS. Kenaikannya mencapai 8,1 ton per hektare, terbesar di antara seluruh lokasi yang tercatat.
Kecamatan Maritengngae, Sidrap, membukukan 11,42 ton per hektare untuk Inpari 48. Produktivitas awal varietas itu 5,5 ton per hektare.
Kabupaten Soppeng mencatat 11,2 ton per hektare lewat Inpari 32. Inpari 42 menghasilkan 11,05 ton per hektare di Maros dan 10,5 ton per hektare di Bone.
Rata-rata nasional dari sepuluh provinsi naik 4,39 ton per hektare. Data yang beredar di media sosial itu memuat perbandingan produktivitas awal dan pasca-PM-AAS di Sumatera Utara, Lampung, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua Selatan.
Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, mencatat 12,88 ton per hektare untuk Inpari 32 di lahan 100 hektare. Produktivitas awalnya 7 ton per hektare, sehingga selisihnya 5,88 ton per hektare.
Lampung membukukan 12,58 ton per hektare di Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah. Inpari 49 di lahan irigasi teknis 100 hektare itu naik 6,08 ton per hektare dari 6,5 ton per hektare.
Sulawesi Barat mencatat 12,5 ton per hektare di Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar. Inpari 42 di lahan 102 hektare naik 5 ton per hektare dari 7,5 ton per hektare.
Peningkatan tidak hanya terjadi di lahan irigasi teknis. Di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Inpari 49 di lahan rawa naik dari 3,5 menjadi 8,7 ton per hektare.
Merauke, Papua Selatan, mencatat Inpari 37 di lahan tadah hujan 100 hektare naik dari 3 menjadi 8,15 ton per hektare. Sumatera Utara menghasilkan 12,03 ton per hektare dari varietas Cibatu, naik 5,03 ton per hektare.
Nusa Tenggara Barat mencatat 10,5 ton per hektare untuk Inpari 32 di Lombok Tengah. Kalimantan Barat membukukan 8,47 ton per hektare di Sambas.
Seluruh lokasi dalam data mencatat kenaikan produktivitas. Selisih terendah 1,12 ton per hektare dan tertinggi 8,1 ton per hektare.
Luas lahan yang dicatat bervariasi dari 4 hektare hingga 200 hektare. Tipologinya mencakup irigasi teknis, semi teknis, rawa, dan tadah hujan.
Varietas Inpari mendominasi, mulai dari Inpari 32, 42, 43, 48, 49, hingga 37, selain Ciherang dan Cibatu. Perbedaan varietas, kondisi lahan, dan luas tanam membuat angka antardaerah tidak sepenuhnya sebanding.
Data progres PM-AAS yang dirangkum tersebut belum memuat rincian metode penerapan di tiap lokasi. Pembandingan antarwilayah perlu mempertimbangkan perbedaan tipologi lahan yang menonjol, terutama antara lahan irigasi teknis dan tadah hujan.