MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menilai FIN Expo 2026 sebagai kanal strategis untuk menekan jarak antara tingkat literasi dan inklusi keuangan warga. Wagub Fatmawati Rusdi menyebut selisih keduanya masih mencapai 33 persen, angka yang dinilai terlalu besar untuk dibiarkan.
Pameran berlangsung di Atrium Trans Studio Mall Makassar dengan tema "Akses Keuangan yang Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera". Sebanyak 28 booth pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) hadir meramaikan rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK).
Wagub Minta Warga Kenali Manfaat Sekaligus Risiko Produk Keuangan
Fatmawati menekankan bahwa edukasi di FIN Expo tidak berhenti pada sisi menguntungkan produk keuangan. Warga, katanya, juga perlu memahami risiko di balik setiap layanan yang ditawarkan.
"Mari kita memanfaatkan ajang ini sebaik-baiknya. Mari kita kenali produk keuangan yang legal. Tidak ada lagi kita terjebak dengan produk yang ilegal dan tidak aman, sehingga membuat masyarakat kita sengsara," ujarnya saat membuka acara.
Ia menambahkan, pemahaman menyeluruh soal manfaat, kegunaan, dan risiko menjadi kunci agar masyarakat tidak salah langkah. "Tapi tentunya selain manfaatnya, kegunaannya, dan hal-hal yang mencerahkan, bisa kita dapatkan informasi edukasi sebanyak-banyaknya pada ajang ini, begitu juga dengan kita pahami resikonya," tambah Fatmawati.
OJK Sulselbar Pasang Target 25 Ribu Pengunjung
Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin menyatakan pihaknya menargetkan 25 ribu pengunjung sepanjang gelaran. Angka itu dipasang untuk memperluas jangkauan kampanye menabung dan pemahaman produk jasa keuangan.
"Kami menargetkan bahwa di FIN EXPO 2026 ini ada 25 ribu pengunjung, dan semoga targetnya tercapai," ujarnya.
Dari sisi transaksi, OJK berharap capaian tahun ini melampaui realisasi 2025. "Tahun lalu kita kurang lebih ada Rp5,5 miliar transaksi. Makanya di tahun ini kami harap lebih dari itu," kata Muchlasin.
Bisnis Matching Jadi Ruang Kolaborasi Industri dan Masyarakat
Ketua Panitia Pelaksana FIN Expo 2026 Riza Pahlevi menuturkan, pameran ini bukan sekadar etalase produk. Booth yang tersedia dirancang sebagai ruang interaksi, konsultasi, dan edukasi antara industri jasa keuangan dan warga.
"Kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan berbagai produk dan layanan jasa keuangan, tetapi juga untuk menjadi saranan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Khususnya lagi di wilayah Sulselbar," jelasnya.
Riza, yang juga CEO BRI Regional Office 15 Makassar, berharap pengunjung tidak hanya melihat produk. Ia ingin mereka memanfaatkan kehadiran booth untuk berkonsultasi soal perencanaan dan pengelolaan keuangan.
"Kami berharap keberadaan booth-booth tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan produk dan layanan, tetapi juga menjadi ruang interaksi, edukasi, konsultasi, dan komunikasi antara industri jasa keuangan dengan masyarakat," tambahnya.
Pemprov Sulsel Dorong Layanan Keuangan Menjangkau Pedesaan
Fatmawati menyatakan Pemprov Sulawesi Selatan mendukung penuh inisiatif yang memperkuat literasi keuangan inklusif. Pelaku industri jasa keuangan diminta memperluas jangkauan layanan hingga ke pedesaan.
Selain itu, industri didorong menghadirkan inovasi produk yang inklusif, ramah masyarakat, serta mendukung perkembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan.
"Kegiatan ini sangat strategis dan berberkesuaian dengan arah pembangunan ekonomi daerah kita, yaitu akses keuangan merata, ekonomi berdaya, dan tentunya masyarakat kita sejahtera," terang Wagub Sulsel.
Ia menilai gelaran ini juga menjadi wadah bisnis matching antarpemangku kepentingan. Sinergi tersebut diharapkan mempercepat penurunan kesenjangan literasi dan inklusi keuangan di daerah.
"Saya melihat ada juga bisnis matching. Ini tentunya bentuk sinergi, kolaborasi untuk kita sama-sama mendorong terus literasi keuangan kepada masyarakat kita, agar GAP antara literasi dan inklusi keuangan yang sebesar 33% itu bisa kita kecilkan lagi," tegasnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, OJK Sulselbar berharap akses keuangan terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat. Kampanye budaya menabung dan perlindungan konsumen turut menjadi bagian dari agenda pameran.