TANA TORAJA — Fatmawati Rusdi menilai kemudahan yang dibawa teknologi digital dan kecerdasan buatan berjalan seiring dengan risiko yang mengintai anak dan keluarga. Karena itu, ia menekankan perlunya aturan jelas di rumah dan sekolah, bukan sekadar imbauan lisan. Aturan yang sudah dibuat pun harus diterapkan tanpa longgar.
Loker Sekolah Diminta Benar-Benar Dipakai
Fatmawati menyoroti kebiasaan membawa telepon seluler ke dalam kelas. Menurutnya, fasilitas loker yang tersedia di sekolah harus dimanfaatkan sesuai fungsi selama proses pembelajaran berlangsung.
"Saya berharap masuk lingkungan sekolah HP-nya sudah dimasukkan di loker," ujarnya.
Ia menambahkan, lingkungan sekolah perlu memastikan keberadaan telepon seluler tidak mengganggu jalannya pelajaran. Aturan tanpa pengawasan dinilai hanya akan jadi formalitas.
Screen Time Anak Perlu Diawasi, Bukan Sekadar Dilarang
Di rumah, Fatmawati meminta orang tua memperhatikan waktu penggunaan gawai anak. Pendampingan dinilai perlu dilakukan lewat komunikasi langsung, bukan hanya lewat kehadiran fisik di rumah.
"Kita merasa aman, anak-anak kita, suami kita, istri kita ada di dalam rumah, sudah bersama kita satu meja makan ataupun di ruang TV kita bisa bercengkerama," katanya.
Ia mengingatkan, keberadaan anggota keluarga dalam satu rumah belum tentu menjamin komunikasi yang baik. Anak bisa tetap terhubung dengan berbagai pihak di ruang digital tanpa diketahui orang tua.
Judi Online dan Pinjaman Online Jadi Ancaman di Ruang Digital
Fatmawati menyebut judi online dan pinjaman online sebagai dua risiko yang dapat menyasar pengguna, termasuk anak dan keluarga. Orang tua diminta memahami aktivitas digital anggota keluarga tanpa mengabaikan komunikasi tatap muka.
"Anak kita ada di depan mata, begitu juga suami atau istri. Tetapi, di ruang digital, mereka bisa saja terhubung dengan berbagai risiko yang tidak kita ketahui," ujarnya.
Ia menilai pengawasan tidak berarti menjauhkan anak dari teknologi. Penggunaan gawai tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
Literasi Digital Tidak Bisa Hanya Andalkan Keluarga
Menurut Fatmawati, penguatan literasi digital membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah, pemerintah daerah, organisasi perempuan, tokoh masyarakat, dan komunitas diminta ikut memberikan edukasi.
Edukasi dinilai perlu dilakukan berulang agar anak mampu mengenali risiko sekaligus menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
"Di masyarakat, kita perlu bentuk komunitas untuk bagaimana mengedukasi, mengulang-ulang terus agar kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan tidak terjadi," kata Fatmawati.
Ia berharap pendampingan anak di ruang digital berjalan seiring upaya perlindungan perempuan dan anak. Dengan pengawasan yang konsisten, anak diharapkan bisa memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif.