Harga cabai di Sulawesi Selatan melonjak dari kisaran normal Rp 50 ribu menjadi Rp 85 ribu per kilogram akibat kekeringan panjang yang dipicu fenomena El Nino. Dinas Ketahanan Pangan Sulsel mencatat kenaikan ini terjadi di tingkat petani, dengan harga jual cabai saat ini berada di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram. Gubernur Sulsel telah menginstruksikan pemantauan dan intervensi pasar untuk menekan lonjakan harga.
MAKASSAR — Kekeringan panjang yang melanda sejumlah daerah penghasil cabai di Sulawesi Selatan memangkas produksi dan mendorong harga komoditas itu melonjak tajam. Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel Muhammad Ilyas menyebut harga cabai di pasaran kini menembus Rp 85 ribu per kilogram, naik sekitar 70 persen dari harga normal.
Lonjakan serupa juga terpantau di tingkat petani. Harga cabai dari petani saat ini berada di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram, jauh di atas harga biasanya.
Kekeringan Pangkas Produksi di Tingkat Petani
Ilyas menjelaskan kekeringan yang berkepanjangan membuat produksi cabai berkurang signifikan. Pasokan yang menipis di tingkat petani kemudian berimbas langsung ke harga jual di pasar.
"Biasanya cuma Rp50 ribu, sekarang sudah Rp85 ribu. Kenaikan harga dipengaruhi kondisi di tingkat petani. Harga cabai dari petani saat ini berada di kisaran Rp65 ribu-Rp70 ribu per kilogram," ujar Ilyas di Makassar, Sabtu.
Pemerintah provinsi menaruh perhatian serius pada kenaikan ini. Gubernur Sulsel memberi arahan agar pemantauan dan intervensi pasar segera dilakukan.
TPID Temukan Lonjakan di Pasar Terong dan Pa'baeng-baeng
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan bersama sejumlah instansi terkait sebelumnya menggelar operasi pasar di Pasar Terong dan Pasar Pa'baeng-baeng, Makassar. Pemantauan di dua pasar itu menemukan harga cabai rawit naik cukup signifikan.
Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 50 ribu per kilogram, harga cabai rawit kini mencapai sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 85 ribu per kilogram.
TPID juga akan memantau distribusi cabai dari Sulsel ke daerah lain. Langkah ini untuk memastikan kebutuhan masyarakat Sulsel tetap terpenuhi di tengah pasokan yang menipis.
Opsi Intervensi: Gerakan Pangan Murah hingga Dukungan Biaya Transportasi
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Firman Hidayat menyatakan pihaknya siap bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menstabilkan harga.
"Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah untuk melakukan langkah stabilisasi, termasuk melalui Gerakan Pangan Murah dan kerja sama antardaerah," kata Firman.
TPID bersama instansi terkait selanjutnya akan membahas sejumlah opsi intervensi. Opsi itu mencakup Gerakan Pangan Murah, penguatan kerja sama antardaerah, pemantauan distribusi, hingga kemungkinan dukungan biaya transportasi bagi pengecer.
Langkah tersebut diharapkan menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan kenaikan harga pangan. Daya beli masyarakat Sulawesi Selatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap opsi yang disiapkan.