ISSP Siapkan Rp150 Miliar untuk Buyback Saham Mulai 6 November 2026

Penulis: Tedy Rustandi  •  Kamis, 05 November 2026 | 09:53:01 WIB
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) mengalokasikan dana hingga Rp150 miliar untuk membeli kembali saham perseroan.

SULAWESI SELATAN — PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) mengalokasikan dana hingga Rp150 miliar untuk membeli kembali saham perseroan di tengah gejolak pasar modal. Aksi korporasi produsen pipa baja yang dikenal sebagai Spindo itu berlangsung tiga bulan mulai 6 November 2026 dan seluruhnya memakai kas internal.

Corporate Secretary & Investor Relations Spindo, Johanes W. Edward, menyatakan perseroan akan menjaga agar jumlah saham beredar di publik tidak turun di bawah ambang minimum. Posisi free float ISSP saat ini tercatat 33,25 persen, jauh di atas batas 20 persen yang disyaratkan otoritas bursa.

Perkiraan saham yang dibeli kembali mencapai 3,48 persen dari total saham yang telah dikeluarkan perseroan, atau setara 250 juta saham. Pembelian dilakukan bertahap selama periode tiga bulan tersebut.

Kas Internal Jadi Sumber Dana, Tanpa Sentuh Utang

ISSP menegaskan dana buyback sepenuhnya berasal dari kas internal, bukan dari hasil penawaran umum perdana (IPO) maupun pinjaman bank. Perseroan memastikan langkah tersebut tidak mengganggu arus kas operasional maupun kemampuan membayar kewajiban jatuh tempo.

Pernyataan itu disampaikan melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia. Manajemen menempatkan buyback sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga saham ketika tekanan jual di pasar meningkat.

"Perkiraan jumlah saham yang akan dibeli kembali kurang lebih sebesar 3,48 persen atau 250 juta saham dari total saham yang telah dikeluarkan perseroan," kata Johanes dalam keterbukaan informasi, Kamis (5/11/2026).

Mengapa Free Float Jadi Patokan Utama

Regulasi pasar modal membatasi aksi buyback agar tidak menggerus likuiditas saham di lantai bursa. Batas free float minimal 20 persen menjadi rambu yang wajib dipenuhi emiten sepanjang periode pembelian kembali.

Dengan free float di level 33,25 persen, ISSP memiliki ruang sekitar 13 poin persentase sebelum menyentuh ambang batas. Ruang itu memberi keleluasaan untuk menyerap 250 juta saham tanpa melanggar ketentuan.

Bagi investor ritel, buyback kerap dibaca sebagai sinyal keyakinan manajemen terhadap nilai wajar saham. Namun efeknya terhadap harga bergantung pada volume transaksi harian dan kondisi likuiditas saham di pasar reguler.

Tekanan Pasar Modal Jadi Latar Keputusan

Langkah Spindo menyusul kondisi pasar saham domestik yang masih bergejolak. Emiten manufaktur berbasis komoditas seperti pipa baja menghadapi tekanan ganda: pelemahan permintaan proyek infrastruktur dan fluktuasi harga bahan baku.

Buyback memberi perseroan opsi menempatkan kelebihan kas tanpa harus menahan dividen atau memperluas kapasitas produksi di saat permintaan belum pulih. Skema serupa juga dipakai sejumlah emiten lain untuk menopang harga saham di periode volatil.

ISSP belum mengungkap batas harga pembelian maupun jadwal eksekusi harian. Keduanya biasanya dituangkan dalam keterbukaan informasi lanjutan sebelum periode buyback dimulai.

Yang Perlu Dicermati Pemegang Saham

Realisasi buyback tidak selalu sesuai plafon dana. Emiten bisa menyerap jauh di bawah alokasi jika harga saham bergerak di atas level yang dinilai menarik oleh manajemen.

Investor sebaiknya memantau laporan realisasi pembelian saham yang wajib disampaikan secara berkala ke bursa. Dari situ terlihat seberapa serius perseroan mengeksekusi komitmen Rp150 miliar yang diumumkan.

Periode tiga bulan memberi ruang evaluasi cukup panjang. Jika harga saham tertekan tajam, penyerapan dana berpotensi lebih cepat; sebaliknya, pasar yang tenang membuat buyback berjalan lambat.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top