SULAWESI SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,18% ke 5.397,34 pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), di tengah mayoritas bursa saham Asia yang tertekan. Penguatan indeks domestik justru terjadi saat KOSPI Korea Selatan ambruk 2,65% dan Nikkei 225 Jepang turun 1,5%.
Kenaikan IHSG sedikit tergerus seiring perjalanan pasar. Pada pukul 09:01 WIB, indeks masih bertahan naik 0,16% ke 5.396,26, menurut data perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Pergerakan itu menjadikan IHSG satu dari sedikit indeks di kawasan yang menghindari koreksi pagi ini. Selain IHSG, hanya Hang Seng Hong Kong yang menguat 0,19% dan SETI Thailand yang naik 0,42%.
Mayoritas indeks saham utama Benua Kuning berkubang di zona merah. KOSPI Korea Selatan menjadi yang terparah dengan penurunan 2,65%, disusul Nikkei 225 Jepang yang melemah 1,5%.
Berikut pergerakan indeks saham Asia pagi ini:
Tekanan di bursa Asia mengekor pergerakan indeks saham Amerika Serikat dini hari tadi waktu Indonesia. S&P 500 anjlok 1,21% dan Nasdaq Composite jatuh 2,6%.
Pelemahan Nasdaq yang lebih dalam dari S&P 500 menandakan tekanan terkonsentrasi pada saham teknologi. Sentimen itu merambat ke bursa Asia yang memiliki bobot saham teknologi cukup besar, terutama Korea Selatan dan Jepang.
Ketahanan IHSG di tengah tekanan regional memberi sinyal awal bahwa arus dana asing belum sepenuhnya keluar dari pasar domestik. Namun kenaikan yang tergerus dalam satu menit pertama perdagangan menunjukkan tenaga penguatan masih tipis.
Bagi investor, selisih kenaikan dari 0,18% ke 0,16% dalam hitungan menit perlu dicermati. Indeks yang dibuka menguat lalu melandai biasanya menandakan tekanan jual mulai masuk, meski belum cukup kuat membalik arah ke zona merah.
Perhatian sesi berikutnya tertuju pada apakah IHSG mampu mempertahankan posisi hijau sampai penutupan, atau justru terseret arus koreksi regional yang pagi ini dipimpin KOSPI dan Nikkei.