MAKASSAR — Penetapan 19 Oktober sebagai hari jadi Sulawesi Selatan bukan tanpa alasan historis. Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995 menjadi dasar hukum yang mengikat tanggal tersebut, dengan peristiwa berakhirnya Perang Makassar pada 1669 sebagai rujukan utamanya.
Perang Makassar menjadi simbol keteguhan masyarakat Sulawesi Selatan menghadapi kekuatan kolonial. Tiga kelompok etnis besar — Bugis, Makassar, dan Toraja — menjadi bagian dari identitas provinsi yang tahun ini genap berusia 357 tahun.
Peringatan hari jadi Sulawesi Selatan diarahkan pada tiga hal: mengenang sejarah, melestarikan budaya, dan mendorong pembangunan daerah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menempatkan momentum ini sebagai pijakan refleksi, bukan hanya agenda upacara.
Kekayaan budaya Bugis, Makassar, dan Toraja disebut sebagai bagian dari kekuatan provinsi ini. Identitas tersebut melekat pada kehidupan warga sehari-hari, dari tradisi hingga arsitektur.
Tanggal 19 Oktober juga tercatat sebagai Hari Aksi Kemanusiaan Sedunia atau World Humanitarian Action Day di sejumlah kalender peringatan. Momen ini menyoroti pentingnya bantuan bagi masyarakat yang menghadapi krisis, bencana alam, konflik, dan kondisi darurat lain.
Aksi kemanusiaan diarahkan untuk mengurangi penderitaan, melindungi martabat manusia, dan menyalurkan bantuan tanpa membedakan latar belakang penerima. Para relawan dan pekerja kemanusiaan menjadi pihak yang mendapat perhatian pada peringatan ini.
Perlu dicatat, peringatan 19 Oktober ini berbeda dari Hari Kemanusiaan Sedunia resmi yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Versi PBB diperingati setiap 19 Agustus, bukan Oktober.
Peringatan ketiga di tanggal 19 Oktober adalah Hari Tulang dan Sendi Anak Sedunia atau World Pediatric Bone and Joint Day. Peringatan ini pertama kali digelar pada 19 Oktober 2012.
Tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat soal kesehatan tulang, sendi, otot, dan sistem gerak pada anak. Gangguan muskuloskeletal pada anak dan remaja menjadi fokus perhatian dalam peringatan ini.
Masalah kesehatan tulang dan sendi bisa memengaruhi pertumbuhan serta aktivitas anak. Orang tua dan tenaga kesehatan didorong memahami pencegahan, deteksi dini, dan penanganan yang tepat.
Langkah pencegahan yang dianjurkan mencakup aktivitas fisik sesuai usia, pemenuhan nutrisi, dan pemeriksaan medis bila muncul keluhan. Momentum 19 Oktober menjadi pengingat agar kesehatan tulang dan sendi anak tidak diabaikan.