SULAWESI SELATAN — Perak batangan Antam kembali bergerak di zona hijau. Berdasarkan pantauan di situs resmi Logam Mulia, harga perak murni produksi BUMN tambang itu naik Rp400 per gram dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.
Kenaikan ini menjadi kabar baik bagi kolektor dan investor yang selama ini menjadikan perak sebagai alternatif diversifikasi portofolio di luar emas. Namun, perlu dicatat bahwa harga dasar tersebut belum termasuk pajak.
Transaksi perak batangan Antam secara resmi dikenakan PPN sebesar 11 persen sesuai regulasi perpajakan yang berlaku. Artinya, setiap pembelian perak murni, pembeli harus menyiapkan dana lebih dari harga dasar yang tertera di situs Logam Mulia.
Untuk varian batangan standar, dengan harga dasar Rp39.450 per gram, konsumen harus membayar sekitar Rp43.789 per gram setelah ditambah PPN. Selisih ini cukup signifikan, terutama bagi mereka yang membeli dalam jumlah besar.
Selain batangan standar, Antam juga menyediakan edisi khusus Perak Antam Heritage yang banyak diburu kolektor. Varian ini menawarkan desain estetis dan eksklusif, menjadikannya bukan sekadar instrumen investasi, tetapi juga benda koleksi.
Untuk edisi Heritage ukuran 31,1 gram (1 oz), harga dasarnya tercatat Rp1.774.671. Setelah ditambah PPN 11 persen, konsumen harus merogoh kocek Rp1.969.885 untuk membawanya pulang.
Sementara itu, untuk ukuran yang lebih besar, yakni Perak Heritage 186,6 gram, harga dasar mencapai Rp9.526.666. Dengan tambahan pajak, total yang harus dibayarkan menjadi Rp10.574.599 per keping.
Selisih antara harga dasar dan harga final ini kerap menjadi pertimbangan utama investor sebelum memutuskan membeli. Bagi pembeli yang ingin menjual kembali, harga acuan yang digunakan biasanya adalah harga dasar, bukan harga setelah pajak.
Pergerakan harga perak Antam kerap menjadi indikator sentimen investor terhadap logam mulia secara umum. Setelah sempat terkoreksi, penguatan hari ini menunjukkan adanya permintaan baru, baik dari dalam negeri maupun faktor eksternal yang mempengaruhi harga komoditas.
Bagi investor ritel, perak memang kerap dianggap sebagai "emasnya orang kecil" karena harga per gramnya yang jauh lebih terjangkau. Namun, volatilitasnya juga cenderung lebih tinggi dibandingkan emas, sehingga manajemen risiko tetap diperlukan.
Dengan adanya kenaikan ini, pelaku pasar akan mencermati apakah tren positif berlanjut pada perdagangan besok atau justru kembali terkoreksi seiring dengan pergerakan harga perak global.