SULAWESI SELATAN — PT Bukit Asam (Persero) Tbk bukanlah pemain baru di industri batu bara. Perusahaan yang berdiri sejak 1981 ini bahkan sempat menjadi satu-satunya BUMN tambang batu bara di Indonesia pada 1990, setelah pemerintah membubarkan Perum Tambang Batu Bara. Emiten bersandi PTBA ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 23 Desember 2002 dengan harga perdana Rp575 per saham.
Babak besar terjadi pada 2017 ketika Bukit Asam bergabung ke dalam Holding BUMN Pertambangan yang dipimpin PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau MIND ID. Bergabungnya ke holding ini mengubah status perseroan menjadi PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Manajemen menyatakan langkah ini merupakan bagian dari komitmen mendukung transisi energi nasional menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Sepanjang 2026, saham PTBA bergerak impresif. Dalam sepekan terakhir hingga 29 Mei, saham ini menguat 2,21 persen. Namun dalam satu bulan terakhir sempat terkoreksi 3,14 persen. Jika ditarik lebih panjang, saham PTBA melonjak 6,92 persen dalam tiga bulan terakhir dan melesat 20,35 persen dalam enam bulan terakhir.
Meski demikian, secara tahunan saham ini masih terkoreksi 3,81 persen. Bahkan dalam periode tiga tahun, harga saham BUMN tambang ini masih turun sekitar 10,03 persen. Namun dalam perspektif jangka panjang, PTBA tetap memberikan imbal hasil menarik. Dalam lima tahun terakhir saham ini menguat 26,94 persen, sementara dalam rentang 10 tahun telah melonjak hingga 108,24 persen.
Per 8 Mei 2026, mayoritas saham PTBA dikuasai oleh PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) selaku induk holding. Perusahaan pelat merah ini menggenggam 65,93 persen saham perseroan, setara 7,60 miliar lembar saham. Sisanya beredar di publik dan institusi lainnya.
Dengan fundamental yang terus bertransformasi dan diversifikasi ke energi hijau, investor kini menunggu langkah konkret Bukit Asam dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah fluktuasi harga komoditas global.