SULAWESI SELATAN — RAM dan ROM sering dianggap dua jenis memori yang berlawanan, padahal definisi ROM sudah bergeser jauh sejak chip pertama dibuat. RAM tetap jadi memori kerja yang isinya hilang saat daya mati, sementara ROM kini nyaris selalu berupa flash memory yang bisa ditulis ulang lewat update firmware. Buat calon pembeli HP atau laptop, memahami perbedaan keduanya membantu menilai spesifikasi yang tertera di brosur.
Random access memory (RAM) dan read-only memory (ROM) adalah dua jenis memori yang ada di hampir semua perangkat komputasi, dari smartphone sampai laptop. RAM menyimpan apa pun yang sedang diproses perangkat, sedangkan ROM menyimpan instruksi permanen yang dibutuhkan perangkat untuk menyala. Namun label ROM di spesifikasi HP atau PC modern sudah tidak lagi menggambarkan chip yang benar-benar hanya bisa dibaca.
Apa Itu RAM dan Apa Tugasnya
Setiap aplikasi yang dibuka di perangkat melibatkan RAM. Saat pengguna membuka tab browser, kontennya disalin dari penyimpanan ke RAM agar prosesor bisa mengaksesnya dalam hitungan nanodetik. DRAM adalah jenis RAM paling dominan, menyimpan tiap bit sebagai muatan di kapasitor mungil yang di-refresh ribuan kali per detik.
Kapasitor itu tidak bisa di-refresh saat daya terputus, sehingga seluruh isi RAM langsung hilang begitu perangkat dimatikan. Pengguna PC yang pernah merakit sendiri komputer pasti kenal modul DDR5, sementara HP dan laptop tipis memakai LPDDR yang disolder ke motherboard. Kartu grafis mengelompokkan chip GDDR di sekitar GPU.
Kapasitas RAM yang lebih besar memungkinkan lebih banyak aplikasi, tab, dan game berat berjalan sebelum sistem mulai menukar data ke penyimpanan yang lebih lambat. Masalahnya, harga DRAM konvensional melonjak 90 hingga 95 persen secara kuartalan pada awal tahun menurut TrendForce. Pusat data AI menyerap hampir seluruh pasokan chip, sehingga produsen seperti Micron menghentikan merek konsumen Crucial demi fokus ke permintaan pusat data bermargin tinggi.
Mengapa ROM Tidak Lagi Benar-Benar Read-Only
Chip ROM paling awal menyimpan data langsung di sirkuitnya, jadi setiap perubahan harus dikembalikan ke pabrik untuk dicetak ulang. Programmable ROM (PROM) pada 1956 buatan Wen Tsing Chow dari American Bosch Arma memungkinkan Angkatan Udara Amerika Serikat memuat data penargetan rudal dengan meniup sekring mikroskopis di dalam chip. Karena sekring hanya bisa ditiup sekali, setiap penulisan bersifat permanen, termasuk saat terjadi kesalahan.
Insinyur Intel Dov Frohman kemudian mengembangkan EPROM pada 1971, chip yang bisa dihapus setelah ia meneliti gangguan keandalan di produk Intel lain. Tiap EPROM punya jendela kuarsa kecil, dan sinar UV selama beberapa menit mampu menghapus isinya untuk diprogram ulang. EEPROM menyempurnakan ide itu dengan penghapusan elektrik, lalu Fujio Masuoka dari Toshiba membawanya ke bentuk akhir lewat flash memory: NOR flash pada 1984 dan NAND flash pada 1987.
NAND flash kini ada di setiap SSD, smartphone, kartu memori, dan USB di pasaran. Chip firmware di motherboard PC masih disebut BIOS ROM, padahal isinya flash kecil yang ditulis ulang setiap update firmware. Hal serupa berlaku di HP, di mana ROM yang dicantumkan Xiaomi untuk Redmi 13 sebenarnya adalah flash UFS atau eMMC dengan partisi sistem yang dikunci read-only.
Dampaknya ke Pembaca Spesifikasi HP dan Laptop
ROM asli yang dipatok pabrik masih eksis, tapi hanya di perangkat elektronik murah seperti mikrokontroler kecil yang menjalankan kode tak pernah berubah. Di perangkat lain, RAM tetap berarti seperti enam dekade lalu, sementara ROM jadi singkatan untuk memori apa pun yang tidak boleh disentuh pengguna.
Karena itu, melihat tulisan ROM di spesifikasi HP sebaiknya tidak diartikan sebagai penyimpanan yang tidak bisa diubah. Pabrikan memakai istilah itu untuk merujuk penyimpanan internal, yang kapasitasnya justru sering jadi pertimbangan utama saat membeli perangkat. Konsumen yang paham perbedaan ini bisa lebih jeli menilai apakah sebuah HP menawarkan RAM besar untuk multitasking atau penyimpanan lega untuk foto dan aplikasi.
Kaitan dengan Harga Perangkat di Pasar Indonesia
Lonjakan harga DRAM akibat permintaan pusat data AI berpotensi merembet ke harga HP dan laptop di pasar lokal. Komponen memori menyumbang porsi signifikan dari biaya produksi, terutama di segmen menengah ke bawah yang marginnya tipis. Pengguna Indonesia yang berencana membeli perangkat baru dalam waktu dekat perlu mencermati tren ini, karena kenaikan biaya komponen biasanya diteruskan ke harga jual.
Pilihan kapasitas RAM dan penyimpanan jadi semakin penting ketika harga naik. Perangkat dengan RAM 8 GB dan penyimpanan 256 GB masih cukup untuk pemakaian harian, tetapi pengguna berat yang sering membuka banyak aplikasi sekaligus sebaiknya mempertimbangkan RAM lebih besar sejak awal. Memori yang disolder ke board membuat opsi upgrade setelah pembelian praktis tidak ada.